Pertemuan Trump dan Xi Jinping Dinilai Redakan Ketegangan Global, Namun Picu Dilema Baru soal Taiwan

  • Share
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. (Foto: Detik News)

RBN || Jakarta

Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing dinilai menjadi salah satu momentum diplomatik penting yang dapat memengaruhi arah politik global. Di tengah meningkatnya rivalitas dua negara adidaya tersebut, pertemuan keduanya dipandang membuka ruang dialog sekaligus mengurangi potensi konfrontasi terbuka.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai pertemuan kedua pemimpin dunia itu memberikan dampak positif bagi stabilitas internasional. Menurutnya, komunikasi langsung antara Washington dan Beijing dapat mencegah kesalahpahaman di tengah persaingan geopolitik dan ekonomi yang terus meningkat.

“Pertemuan kedua negara adikuasa ini baik bagi dunia karena menghindari kesalahpahaman jika keduanya bersaing dan saling mengalahkan. Padahal, keduanya masih menyimpan potensi kerja sama,” ujar Teuku, Senin (18/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, isu Iran turut menjadi perhatian utama. Teuku menilai Amerika Serikat membutuhkan pengaruh China untuk menekan Iran, khususnya terkait isu pengembangan senjata nuklir. China dinilai memiliki posisi strategis karena tetap menjaga hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Teheran di tengah tekanan Barat.

Menurut Teuku, Beijing berpotensi memainkan peran sebagai mediator yang menjembatani kepentingan Amerika Serikat dan Iran. Namun ia menekankan, China tetap akan bergerak berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri dan tidak sepenuhnya mengikuti agenda Washington.

“China memahami permintaan Amerika Serikat, tetapi implementasinya akan disaring sesuai kepentingan jangka panjang China dan prinsip-prinsip hukum internasional yang mereka pegang,” jelasnya.

Di sisi lain, Teuku melihat kedekatan diplomatik Trump dan Xi Jinping juga dapat memunculkan dilema baru bagi Amerika Serikat dalam isu Taiwan. Ia menilai meningkatnya kekuatan ekonomi, diplomasi, dan militer China membuat posisi AS semakin kompleks dalam memberikan dukungan terbuka terhadap Taiwan.

“Dengan kebangkitan China yang semakin kuat, akan semakin sulit bagi AS mendukung Taiwan secara militer, termasuk melalui latihan bersama dengan sekutunya,” katanya.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai hubungan AS dan China masih berada dalam pola kompetisi strategis yang penuh kehati-hatian. Pertemuan kedua pemimpin belum tentu menghapus rivalitas di kawasan Indo-Pasifik, terutama terkait Taiwan, perdagangan, teknologi, dan pengaruh militer di Asia Timur.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping dinilai lebih sebagai upaya menjaga keseimbangan geopolitik global agar rivalitas kedua negara tidak berkembang menjadi konflik terbuka yang dapat mengganggu stabilitas dunia.

Sumber: Detik News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *