RBN || Pontianak
SMAN 1 Pontianak memastikan tidak akan mengikuti pertandingan ulang final Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI 2026 meski Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI memutuskan menggelar ulang babak final akibat kesalahan penilaian dewan juri.
Keputusan tersebut diumumkan pihak sekolah setelah polemik penjurian pada final LCC tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar Sabtu (9/5/2026) ramai menjadi sorotan publik.
Kontroversi bermula ketika jawaban peserta SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra, terkait mekanisme pemilihan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dinyatakan salah oleh dewan juri. Namun, jawaban serupa yang disampaikan peserta dari SMAN 1 Sambas justru mendapat poin tambahan.
Situasi itu memicu protes dari pihak SMAN 1 Pontianak yang meminta klarifikasi atas keputusan penjurian. Polemik tersebut kemudian mendapat perhatian luas, termasuk dari Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Sebagai tindak lanjut, MPR RI memutuskan menggelar final ulang sebagai bentuk evaluasi terhadap kesalahan juri. Meski begitu, pihak sekolah memilih untuk tidak ambil bagian dalam pertandingan ulang tersebut.
Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, menegaskan langkah yang diambil sekolah bukan bertujuan menyerang pihak mana pun, melainkan demi memperoleh kejelasan atas persoalan yang muncul selama perlombaan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan perhatian dan dukungan terhadap situasi yang dihadapi sekolah.
“Sekolah menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba LCC yang diulang, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh MPR RI,” kata Indang, dikutip dari akun Instagram resmi SMAN 1 Pontianak, Kamis (14/5/2026).
Indang menambahkan, sejak awal pihak sekolah tidak pernah berniat membatalkan hasil perlombaan. Menurutnya, langkah yang dilakukan hanya untuk mendapatkan klarifikasi terhadap poin yang dipersoalkan.
SMAN 1 Pontianak juga menyatakan tetap menghormati hasil kompetisi yang telah ditetapkan dan memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat pada ajang nasional.
Selain itu, pihak sekolah menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi di tengah masyarakat akibat polemik tersebut.
Indang berharap seluruh pihak dapat menyelesaikan persoalan dengan semangat kebersamaan dan saling menghargai demi menjaga suasana pendidikan yang kondusif.
Sekolah juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan tetap menjunjung tinggi nilai persatuan.
Sumber: Tribunnews











