RBN || Jakarta
Bayangkan dua orang yang sama-sama membuat kesalahan besar di tempat kerja. Orang pertama langsung merasa seolah seluruh kariernya runtuh, meyakini bahwa satu kesalahan itu membuktikan ia memang tidak kompeten. Orang kedua tetap merasa kecewa dan bertanggung jawab atas kesalahannya, tapi tidak sampai meragukan keseluruhan nilai dirinya sebagai profesional. Perbedaan reaksi ini jarang soal seberapa besar kesalahan yang dibuat, melainkan soal bagaimana self-worth masing-masing dibangun sejak awal.
Banyak orang tanpa sadar menyusun rumus keliru dalam benaknya, seperti aku berharga selama aku sempurna. Rumus ini terdengar masuk akal di permukaan, seolah menjadi standar yang wajar untuk terus mendorong diri menjadi lebih baik. Namun rumus semacam ini punya kelemahan fatal, karena kesempurnaan bukan kondisi yang bisa dipertahankan selamanya. Cepat atau lambat, kesalahan akan datang, entah karena keterbatasan, kelelahan, atau sekadar bagian wajar dari menjadi manusia. Ketika itu terjadi, self-worth yang dibangun di atas kesempurnaan akan runtuh bersamaan dengan kesalahan yang muncul.
Self-worth yang kokoh justru dibangun dengan mengakui sejak awal bahwa kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan siapa pun. Bukan berarti kesalahan dianggap remeh atau tidak perlu diperbaiki, melainkan kesalahan tidak lagi dijadikan tolok ukur tunggal untuk menilai keseluruhan diri seseorang. Seseorang bisa melakukan kesalahan besar sekaligus tetap menjadi pribadi yang bernilai, karena nilai diri dan kesempurnaan tindakan sesungguhnya berdiri di jalur yang berbeda.
Ada perbedaan penting antara mengejar keunggulan dan mengejar kesempurnaan, meski keduanya sering tertukar. Mengejar keunggulan berarti terus berusaha menjadi lebih baik, dengan pemahaman bahwa proses itu wajar diwarnai kegagalan sesekali. Mengejar kesempurnaan berarti menuntut hasil sempurna setiap saat, tanpa memberi ruang bagi proses belajar yang berantakan. Orang yang mengejar keunggulan bisa bangkit setelah gagal karena kegagalan tidak mengancam identitasnya. Orang yang mengejar kesempurnaan sering terpuruk lebih lama, karena kegagalan terasa seperti bukti bahwa dirinya memang tidak layak.
Tuntutan untuk sempurna juga sering membuat seseorang menghindari tantangan baru sama sekali, karena ketakutan gagal terasa lebih besar dibanding keinginan untuk berkembang. Lebih aman rasanya tetap berada di zona yang sudah dikuasai, daripada mencoba sesuatu yang berisiko menampakkan ketidaksempurnaan di depan orang lain. Padahal, justru dari kegagalan-kegagalan kecil itulah kemampuan seseorang biasanya berkembang paling nyata, sesuatu yang terlewatkan ketika kesempurnaan dijadikan syarat mutlak untuk mulai mencoba.
Self-worth yang tidak bergantung pada kesempurnaan juga memberi ruang bagi seseorang untuk meminta bantuan tanpa merasa itu tanda kelemahan. Ketika nilai diri dikaitkan dengan kemampuan menyelesaikan segalanya sendirian tanpa cela, meminta bantuan terasa seperti pengakuan kegagalan. Namun ketika nilai diri sudah cukup kokoh terlepas dari kesempurnaan, meminta bantuan menjadi langkah yang wajar, bahkan menjadi tanda kedewasaan dalam mengenali batas kemampuan diri sendiri.
Menariknya, orang-orang yang menerima ketidaksempurnaan dirinya justru sering terlihat lebih tenang dan lebih mudah didekati dibanding mereka yang terus berusaha tampil sempurna. Ketidaksempurnaan yang diakui secara terbuka menciptakan ruang bagi hubungan yang lebih jujur, karena tidak ada lagi topeng yang harus dijaga terus-menerus. Orang lain pun cenderung merasa lebih nyaman berada di dekat seseorang yang tidak menuntut kesempurnaan dari dirinya sendiri maupun dari orang di sekitarnya.
Membangun self-worth yang tidak bergantung pada kesempurnaan membutuhkan latihan mengganti pertanyaan yang biasa diajukan pada diri sendiri. Alih-alih bertanya, “apakah aku sudah cukup sempurna melakukan ini,” pertanyaan yang lebih membantu adalah, “apakah aku sudah cukup berusaha dengan apa yang aku miliki saat ini.” Pertanyaan kedua ini mengakui keterbatasan sebagai bagian wajar dari proses, bukan sebagai kegagalan yang harus dihindari sama sekali.
Kokohnya self-worth seseorang tidak diukur dari seberapa jarang ia melakukan kesalahan, melainkan dari seberapa cepat ia mampu bangkit dan tetap merasa layak setelah kesalahan itu terjadi. Fondasi nilai diri yang sehat memberi ruang bagi ketidaksempurnaan tanpa harus runtuh karenanya, karena yang menjadi pegangan bukan pencapaian tanpa cela, melainkan kesediaan untuk terus mencoba, belajar, dan tumbuh, meski prosesnya jauh dari kata sempurna.











