RBN || Jakarta
Ada kebiasaan yang tanpa disadari terus tumbuh di banyak orang: mencari persetujuan orang lain bahkan untuk hal sesederhana beristirahat. Sebelum benar-benar mengizinkan diri berhenti sejenak, muncul pertanyaan diam-diam, apakah keputusan ini akan dianggap wajar, apakah orang lain akan menilai sebagai malas, apakah perlu penjelasan agar tidak disalahpahami. Kelembutan pada diri sendiri, yang seharusnya menjadi urusan pribadi, justru sering diseret ke ruang publik untuk mendapat pengesahan.
Ketergantungan pada validasi eksternal ini biasanya berakar dari kebiasaan lama, ketika nilai diri seseorang dibentuk oleh penilaian orang lain sejak kecil. Pujian menjadi bukti bahwa seseorang cukup baik, sementara ketiadaan pujian terasa seperti sinyal bahwa ada yang kurang. Pola ini terbawa hingga dewasa, membuat seseorang kesulitan mempercayai penilaiannya sendiri tentang apa yang dibutuhkan tubuh dan pikirannya, tanpa terlebih dahulu memastikan orang lain menyetujuinya.
Kelembutan yang bergantung pada validasi luar sebenarnya rapuh, karena keberadaannya ditentukan oleh respons orang lain yang tidak bisa dikendalikan. Ketika validasi itu datang, seseorang merasa berhak untuk beristirahat dan bersikap lembut pada dirinya. Namun begitu validasi itu tidak ada, atau bahkan mendapat komentar yang menghakimi, kelembutan itu langsung goyah, digantikan oleh rasa bersalah yang muncul begitu cepat.
Berbeda dengan itu, kelembutan yang sejati berdiri di atas fondasi yang lebih kokoh, pemahaman internal bahwa setiap orang berhak merawat dirinya tanpa harus membuktikan kelayakannya terlebih dahulu. Kelembutan semacam ini tidak goyah oleh komentar orang lain, karena sumbernya bukan dari luar, melainkan dari kesadaran bahwa merawat diri adalah kebutuhan dasar, bukan hadiah yang harus diperjuangkan melalui persetujuan pihak lain.
Ironinya, semakin seseorang mencari validasi untuk kelembutan yang ia berikan pada dirinya sendiri, semakin ia justru menjauh dari kelembutan itu sendiri. Energi yang seharusnya digunakan untuk benar-benar merawat diri malah habis terpakai untuk memikirkan bagaimana orang lain akan menilai keputusan itu. Istirahat yang seharusnya menenangkan justru diselingi kecemasan tentang penilaian yang mungkin muncul, membuat jeda itu tidak sepenuhnya terasa sebagai jeda.
Melepaskan ketergantungan pada validasi luar bukan proses yang instan, terutama bagi mereka yang telah lama terbiasa mengukur kelayakan dirinya dari sudut pandang orang lain. Prosesnya sering dimulai dari langkah-langkah kecil, membuat keputusan sederhana untuk diri sendiri tanpa mengumumkannya, merasakan bagaimana rasanya melakukan sesuatu semata karena dibutuhkan, bukan karena ingin dilihat atau dipuji. Semakin sering langkah kecil ini diulang, semakin kuat pula rasa percaya pada penilaian diri sendiri.
Ada juga pentingnya membedakan antara berbagi pengalaman dengan orang lain dan mencari pengesahan atas keputusan pribadi. Berbagi cerita tentang keputusan untuk beristirahat kepada orang terdekat bukan masalah, selama tujuannya sekadar berbagi, bukan menunggu persetujuan sebelum merasa berhak melakukannya. Perbedaan niat ini kecil, tapi menentukan apakah kelembutan yang dijalani benar-benar milik sendiri, atau masih bergantung pada pengakuan orang lain.
Kelembutan sejati pada diri sendiri juga berarti bersedia menghadapi ketidaksetujuan tanpa harus goyah karenanya. Tidak semua orang akan memahami mengapa seseorang memilih untuk berhenti sejenak, menolak permintaan tertentu, atau memprioritaskan pemulihan dirinya di atas ekspektasi orang lain. Kesediaan untuk tetap teguh pada keputusan itu, meski menghadapi ketidaksetujuan, menjadi tanda bahwa kelembutan itu sudah tertanam kuat, bukan sekadar dipinjam dari persetujuan sesaat.
Merawat diri dengan kelembutan yang tidak bergantung pada validasi luar membutuhkan keberanian tersendiri, karena berarti bersedia berdiri sendirian dalam keyakinan tentang apa yang dibutuhkan, bahkan ketika tidak semua orang sepakat. Namun dari situlah kelembutan yang sesungguhnya tumbuh, bukan sebagai hadiah yang menunggu disetujui, melainkan sebagai hak yang memang sudah melekat pada diri sejak awal.











