RBN || Jakarta
Pekerjaan sering baru terasa berharga ketika seseorang mulai kehilangan kepastian. Selama masih memiliki penghasilan, tempat untuk berkarya, dan rutinitas yang menopang kehidupan, banyak orang justru lebih mudah memusatkan perhatian pada tekanan, target, perjalanan yang melelahkan, atau atasan yang sulit dipahami. Keluhan memang manusiawi, tetapi jika dibiarkan terus-menerus, seseorang dapat lupa bahwa pekerjaan yang sedang dijalani telah menjaga banyak hal dalam hidupnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, kesempatan bekerja bukan sesuatu yang dapat dianggap biasa. Masih banyak orang yang berulang kali mengirimkan lamaran tanpa kepastian, kehilangan pekerjaan karena efisiensi, atau terpaksa menerima pekerjaan dengan penghasilan terbatas demi memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, ketika seseorang masih dapat bangun pada pagi hari dengan tujuan yang jelas dan tempat untuk memberikan kemampuan terbaiknya, ada alasan kuat untuk bersyukur.
Rasa lelah tidak perlu disangkal. Tumpukan tugas, tenggat yang sempit, tuntutan kinerja, perjalanan panjang, dan waktu istirahat yang terbatas memang dapat menguras tenaga. Namun, pekerjaan tetap menjadi salah satu jalan yang memungkinkan seseorang membeli makanan, membayar tempat tinggal, membiayai pendidikan, menjaga kesehatan, memenuhi kebutuhan anak, membantu orang tua, serta mempersiapkan masa depan.
Penghasilan yang diterima mungkin belum sebesar yang diharapkan. Posisinya mungkin belum sesuai cita-cita. Lingkungan kerjanya pun belum tentu ideal. Meski demikian, dari pekerjaan itulah banyak kebutuhan dasar dapat dipenuhi dan berbagai rencana hidup mulai diwujudkan. Nilai sebuah pekerjaan tidak hanya terlihat pada besarnya gaji, tetapi juga pada ketenangan yang tercipta ketika tagihan dapat dibayar, keluarga tetap terjaga, dan harapan masih memiliki ruang untuk tumbuh.
Organisasi Perburuhan Internasional memandang pekerjaan yang layak bukan sekadar sumber pendapatan. Pekerjaan juga berkaitan dengan martabat, perlindungan, kesempatan berkembang, partisipasi sosial, dan kemampuan seseorang membangun kehidupan yang lebih baik. Melalui pekerjaan, seseorang belajar bertanggung jawab, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, mengendalikan emosi, serta bekerja bersama orang lain.
Karena itu, berhenti mengeluh bukan berarti menekan perasaan atau memaksa diri untuk selalu terlihat bahagia. Berhenti mengeluh berarti tidak membiarkan keluhan menguasai cara pandang terhadap seluruh pekerjaan. Ada perbedaan antara menyampaikan masalah untuk mencari solusi dan mengeluh tanpa henti hingga kehilangan semangat, merusak hubungan dengan rekan kerja, serta mengabaikan kesempatan yang masih dimiliki.
Rasa syukur juga bukan alasan untuk menerima segala bentuk perlakuan buruk. Bersyukur tidak berarti membenarkan upah yang tidak layak, jam kerja berlebihan, pelecehan, diskriminasi, intimidasi, atau lingkungan yang merusak kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia mengingatkan bahwa pekerjaan dapat mendukung kesehatan mental, tetapi kondisi kerja yang buruk juga mampu meningkatkan stres, kecemasan, dan kelelahan emosional.
Seorang pekerja tetap berhak beristirahat, mendapatkan pembagian tugas yang wajar, menyampaikan keberatan, memperoleh perlakuan adil, dan mencari bantuan ketika tekanan mulai mengganggu kesehatan. Menghargai pekerjaan tidak sama dengan mengorbankan ketenangan, keluarga, martabat, dan keselamatan diri. Rasa syukur yang sehat justru berjalan bersama keberanian untuk memperbaiki keadaan.
Apabila masalah masih dapat dibicarakan, komunikasi perlu dilakukan secara terbuka dan profesional. Jika keterampilan belum cukup, belajar dan meningkatkan kemampuan menjadi langkah yang lebih berguna daripada terus menyalahkan keadaan. Namun, apabila lingkungan kerja benar-benar tidak sehat dan tidak memberi ruang bagi perbaikan, mempersiapkan pilihan baru juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Keputusan meninggalkan pekerjaan sebaiknya diambil dengan pertimbangan matang, bukan sekadar karena emosi sesaat.
Psikolog Robert A. Emmons, yang banyak meneliti rasa syukur, menjelaskan bahwa bersyukur membantu seseorang mengenali kebaikan yang hadir dalam hidup sekaligus memahami bahwa tidak semua keberhasilan dibangun sendirian. Dalam dunia kerja, ada banyak pihak yang ikut berperan. Ada keluarga yang mendukung, rekan yang membantu, pelanggan yang memberi kepercayaan, mentor yang membagikan pengalaman, serta orang-orang yang pernah membuka kesempatan.
Kesadaran tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang tekanan. Tantangan tidak lagi selalu dianggap sebagai hukuman, tetapi sebagai proses yang membentuk ketangguhan. Kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi, kritik dapat membantu perbaikan, dan tanggung jawab dapat melatih kedewasaan. Rasa syukur membuat seseorang lebih mampu melihat kemampuan yang bertambah, pengalaman yang semakin luas, serta kontribusi yang telah diberikan kepada orang lain.
Mensyukuri pekerjaan tidak membutuhkan tindakan besar. Mulailah dengan hadir tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan baik, menjaga kepercayaan, menghormati rekan kerja, menghindari kebiasaan menunda, dan tidak membawa suasana negatif ke setiap percakapan. Gunakan penghasilan dengan bijak, sisihkan dana darurat, bantu keluarga sesuai kemampuan, dan terus tingkatkan keterampilan agar tidak mudah tertinggal oleh perubahan.
Ketika pekerjaan terasa berat, ingat kembali apa saja yang telah dimungkinkan olehnya. Mungkin pekerjaan itu telah menyediakan makanan di meja makan, membayar biaya sekolah anak, membantu pengobatan orang tua, melunasi cicilan, membawa keluarga berlibur, atau membeli sesuatu yang dahulu hanya dapat dibayangkan. Hal-hal tersebut menjadi bukti bahwa setiap tenaga dan waktu yang diberikan tidak sepenuhnya sia-sia.
Jangan menunggu surat pemutusan hubungan kerja, kehilangan penghasilan, atau berbulan-bulan mencari pekerjaan baru untuk menyadari bahwa kesempatan bekerja adalah sesuatu yang berharga. Hargailah pekerjaan selama masih dimiliki, kerjakan dengan sungguh-sungguh, dan perbaiki hal-hal yang masih dapat diubah. Tetaplah memiliki cita-cita yang lebih tinggi, tetapi jangan meremehkan pijakan yang sedang menopang hidup hari ini.
Pekerjaanmu mungkin belum sempurna dan penghasilannya mungkin belum memenuhi seluruh keinginan. Kamu juga tetap boleh merasa lelah, kecewa, atau menginginkan kehidupan yang lebih baik. Namun, sebelum kembali mengeluh, lihatlah keluarga yang terbantu, kebutuhan yang terpenuhi, kemampuan yang berkembang, dan masa depan yang sedang dibangun. Syukuri pekerjaanmu selagi masih ada, karena kehilangan sering datang lebih cepat daripada kesadaran untuk menghargainya.











