Menguak Dinding Tak Kasat Mata yang Dibangun Ambisi

  • Share
Ilustrasi

RBN || Jakarta

Bayangkan seseorang yang sejak kecil terbiasa mendengar bahwa nilai dirinya diukur dari apa yang berhasil dicapainya. Setiap kali sebuah target tercapai, ada pujian yang datang. Setiap kali target itu gagal diraih, ada kesunyian yang terasa lebih menyakitkan dari kritik sekalipun. Tanpa pernah benar-benar disadari, pola ini perlahan membentuk sebuah dinding di dalam dirinya, dinding yang dibangun bukan untuk melindungi dari serangan orang lain, melainkan untuk menyembunyikan satu ketakutan besar yaitu bagaimana jika ia berhenti mencapai sesuatu, dan ternyata tidak ada lagi yang tersisa untuk dicintai dari dirinya.

Dinding semacam ini jarang terlihat oleh orang di sekitarnya, karena dari luar, yang tampak justru sebaliknya seperti seseorang yang gigih, yang selalu punya rencana, yang tidak pernah puas dengan pencapaian yang sudah diraih. Ambisi seperti ini sering dipuji sebagai kekuatan. Namun di balik pujian itu, ambisi yang tidak pernah berhenti sering kali bukan tanda dari keinginan berkembang, melainkan tanda dari dinding yang terus dipertebal agar ketakutan di baliknya tidak sampai terlihat oleh siapa pun, termasuk oleh dirinya sendiri.

Menguak dinding ini dimulai dari kesediaan bertanya, apa sebenarnya yang terjadi jika berhenti sejenak dari kejaran yang tidak pernah usai. Bagi kebanyakan orang yang telah lama hidup di balik dinding ini, jeda sekecil apa pun terasa mengancam. Bukan karena jeda itu sendiri berbahaya, melainkan karena dalam keheningan itu, suara-suara yang selama ini diredam oleh kesibukan tiba-tiba terdengar lebih jelas seperti pertanyaan tentang siapa dirinya jika bukan yang tercepat, yang paling produktif, yang paling banyak mencapai sesuatu.

Dinding ini biasanya tersusun dari lapisan-lapisan yang terbentuk sejak lama. Lapisan pertama adalah keyakinan bahwa istirahat harus diperjuangkan lewat pencapaian, bukan sekadar hak yang melekat pada diri sebagai manusia. Lapisan kedua adalah kebiasaan mengukur hari yang baik hanya dari seberapa banyak hal yang berhasil diselesaikan, tanpa pernah mempertimbangkan seberapa baik perasaan yang menyertainya. Lapisan ketiga adalah anggapan bahwa berhenti sejenak sama dengan tertinggal, sebuah anggapan yang jarang benar-benar diuji kebenarannya, tapi terus dipercaya begitu saja.

Ironisnya, semakin tinggi dinding ini dibangun, semakin jauh pula seseorang dari perasaan aman yang sebenarnya ia cari lewat pencapaian-pencapaian itu. Setiap target yang berhasil diraih seharusnya memberi ketenangan, tapi yang terjadi justru sebaliknya yaitu kelegaan itu hanya berlangsung sesaat, sebelum digantikan oleh dorongan untuk segera mengejar target berikutnya. Dinding yang dibangun untuk melindungi diri dari rasa tidak cukup justru menjadi ruang yang membuat rasa tidak cukup itu terus tumbuh subur di dalamnya.

Menguak dinding ini juga berarti berani mengakui bahwa sebagian besar ambisi yang selama ini dijalani mungkin tidak sepenuhnya berasal dari keinginan tulus untuk berkembang. Sebagian besar bisa jadi berasal dari upaya membuktikan diri kepada seseorang yang mungkin bahkan sudah lama tidak lagi memperhatikan, atau dari luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, yang kemudian dialihkan menjadi dorongan tanpa henti untuk terus mencapai lebih banyak lagi.

Ada bagian-bagian diri yang selama ini terkurung di balik dinding tersebut, menunggu untuk didengar tanpa pernah benar-benar diberi kesempatan. Kelelahan yang selama ini disamarkan dengan semangat yang dipaksakan. Kesepian yang ditutupi dengan jadwal yang penuh sesak. Kesedihan yang tidak pernah punya waktu untuk benar-benar dirasakan, karena selalu ada hal lain yang harus segera dikerjakan. Semakin lama bagian-bagian ini dibiarkan terkurung, semakin besar pula tekanan yang terkumpul di baliknya.

Merobohkan dinding ini tidak berarti berhenti memiliki tujuan atau kehilangan arah dalam hidup. Yang perlu diubah adalah alasan di balik setiap langkah yang diambil, dari langkah yang didorong oleh ketakutan menjadi langkah yang didorong oleh keinginan yang lebih jujur. Ini membutuhkan kesediaan untuk memperlakukan diri dengan kebaikan, menerima bahwa berhenti sejenak bukan kegagalan, dan menghadapi apa yang selama ini disembunyikan tanpa harus segera menutupinya kembali dengan kesibukan baru.

Salah satu tanda dinding ini mulai terkuak adalah ketika seseorang bisa menikmati keberhasilan tanpa buru-buru berpindah ke target berikutnya, memberi ruang bagi dirinya untuk sekadar merasa cukup, meski hanya sesaat. Momen sederhana ini, meski terasa asing bagi seseorang yang terbiasa terus bergerak, menjadi bukti bahwa satu bagian dari dinding itu telah berhasil diruntuhkan.

Ada waktunya mengejar sesuatu dengan sungguh-sungguh, tetapi ada pula waktunya berhenti sejenak dan bertanya, untuk siapa sebenarnya semua pencapaian ini dikejar. Jika jawabannya lebih banyak berasal dari ketakutan dibanding dari kegembiraan, itu tanda bahwa dinding ini masih berdiri kokoh, menunggu untuk ditelusuri lebih dalam sebelum benar-benar bisa dirobohkan.

Menguak dinding yang telah lama dibangun oleh ambisi bukan proses yang selesai dalam sekali percobaan. Ia membutuhkan kesediaan untuk terus bertanya, terus jujur pada diri sendiri, dan terus memilih untuk tidak lagi menambah lapisan baru setiap kali ketakutan lama muncul kembali. Dari situlah, sedikit demi sedikit, ruang yang selama ini terkurung mulai mendapatkan cahaya, dan ambisi yang dulu terasa seperti penjara perlahan berubah menjadi dorongan yang benar-benar membebaskan.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *