RBN || Surabaya
Kemacetan ekstrem yang melumpuhkan jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk bukan sekadar fenomena musiman, melainkan refleksi dari persoalan struktural yang memuncak akibat pertemuan arus besar libur Lebaran dan Hari Raya Nyepi, yang secara bersamaan mendorong eksodus kendaraan keluar Bali dalam skala masif, jauh melampaui kapasitas riil sistem penyeberangan yang tersedia.
Secara infrastruktur, terdapat delapan dermaga di sisi Gilimanuk maupun Ketapang yang secara teoritis mampu menopang pergerakan arus secara simultan, namun dalam praktiknya kapasitas tersebut tidak sepenuhnya efektif karena keterbatasan armada, di mana kapal berukuran besar dengan kapasitas di atas 2.000 GT hanya berjumlah sekitar delapan hingga sembilan unit, sementara mayoritas armada lainnya berukuran lebih kecil dengan daya angkut terbatas, sehingga terjadi ketimpangan signifikan antara kesiapan fasilitas dermaga dan kemampuan angkut kapal dalam mengurai kepadatan.
Lonjakan volume kendaraan yang meningkat drastis ditambah dengan masih beroperasinya kendaraan logistik berat di luar pengaturan waktu yang ideal semakin memperlambat proses bongkar muat serta memperpanjang siklus antrean, sementara tidak adanya pelabuhan alternatif sebagai jalur distribusi membuat seluruh beban lalu lintas terpusat di satu titik kritis.
Di sisi lain, lemahnya manajemen pengaturan kedatangan kendaraan yang belum terintegrasi dengan kapasitas penyeberangan menyebabkan gelombang kendaraan datang secara bersamaan tanpa jeda, memperparah kepadatan hingga menimbulkan antrean panjang yang berdampak pada menurunnya kenyamanan dan kondisi fisik pemudik.
Keseluruhan situasi ini menegaskan bahwa kemacetan Gilimanuk bukan hanya persoalan teknis lapangan, melainkan cerminan ketidakseimbangan antara pertumbuhan mobilitas masyarakat dengan kesiapan sistem transportasi yang masih membutuhkan pembenahan menyeluruh dan terintegrasi.
Sumber: Detik News











