Kemenkes Soroti Kasus CCTV Ilegal di RSUD Raden Mattaher, Dorong Evaluasi Pendidikan Profesi Dokter

  • Share
Ilustrasi kamera tersembunyi. Foto: Getty Images/Onfokus

RBN || Jakarta

Kementerian Kesehatan RI menyoroti kembali mencuatnya kasus pemasangan kamera tersembunyi di toilet wanita di RSUD Raden Mattaher, Jambi, yang melibatkan seorang mahasiswa kedokteran. Sebanyak 34 mahasiswi koas menjadi korban dalam peristiwa yang terjadi pada Desember 2023 tersebut.

Kasus ini kembali menjadi perhatian publik setelah pelaku diketahui masih melanjutkan studi profesi dokter di Universitas Islam Sumatera Utara usai menjalani hukuman. Pada 12 Agustus 2024, Pengadilan Negeri Jambi menjatuhkan vonis satu tahun tiga bulan penjara kepada yang bersangkutan.

Salah satu korban, AS, mengaku terkejut mengetahui pelaku tetap melanjutkan pendidikan. Ia menilai peristiwa tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap privasi dan etika, terlebih terjadi di lingkungan fasilitas kesehatan yang seharusnya menjunjung tinggi rasa aman dan kepercayaan.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, menyebut kasus tersebut memprihatinkan. Namun, ia menegaskan bahwa pelaku saat kejadian masih berstatus mahasiswa dan belum berprofesi sebagai dokter, serta lokasi peristiwa bukan berada di rumah sakit milik Kemenkes.

“Ini memprihatinkan. Namun yang bersangkutan masih dalam proses pendidikan dan belum menjadi dokter. Lokasi kejadian juga bukan di rumah sakit Kemenkes, sehingga lebih tepat menjadi ranah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta pemerintah daerah,” ujar Aji saat dihubungi, Jumat (13/2/2025).

Kemenkes, lanjutnya, mendorong agar ada pendalaman menyeluruh untuk memastikan aspek pembinaan, pengawasan, serta efek jera benar-benar diterapkan. Hal ini penting demi menjaga integritas profesi kesehatan dan melindungi hak serta keamanan pasien maupun tenaga medis perempuan.

Aji juga menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi telah melakukan penelusuran atas laporan yang kembali viral tersebut. Publik kini menanti langkah tegas dan transparan dari institusi pendidikan terkait, agar kasus serupa tidak terulang dan standar etika calon tenaga medis tetap terjaga.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan kesehatan tidak hanya menuntut kompetensi klinis, tetapi juga integritas moral dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Sumber: Detikhealth

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *