RBN || Jakarta
Danny Kosasih: “Lupakan PDB, Kekuasaan Kini Diukur dari Kode. Kita Rakyat yang Dikendalikan Algoritma, Bukan Kesadaran.”
Di era Big Data, kekuasaan global sedang mengalami pergeseran radikal, menjauhi parlemen dan istana, menuju server-server raksasa. Menurut Danny Kosasih, Founder Dharma Intelligence, negara dan lembaga politik tak lagi memegang kendali penuh. Ia memperingatkan, kini muncul bentuk kekuasaan baru yang tak kasat mata namun sangat dominan: Feodalisme Digital.
“Kita sedang memasuki era feodalisme digital, di mana mereka yang mengendalikan algoritma mengendalikan cara kita berpikir, bertindak, bahkan memengaruhi hasil pemilu,” ungkap Danny. Ia menegaskan, peta kekuasaan global kini diukur dari siapa yang memiliki dan menguasai kode, bukan lagi seberapa besar teritori atau Produk Domestik Bruto (PDB) sebuah negara.
Danny menjelaskan bahwa manusia saat ini hidup di zaman di mana data adalah emas baru. Setiap klik, pencarian, riwayat belanja, dan bahkan preferensi emosi kita diubah menjadi ‘bahan bakar’ ekonomi platform digital. Data pribadi—mulai dari usia, lokasi, riwayat pendidikan, hingga jenis pekerjaan—dimanfaatkan untuk memetakan profil individu secara akurat, menciptakan ilusi layanan personal.
Namun, kemudahan ini datang dengan harga yang mahal: ketimpangan kekuasaan baru. Mereka yang memiliki kontrol atas data dan algoritma kini menjadi ‘tuan tanah’ digital yang menentukan realitas informasi.
“Konten yang muncul di feed kita bukan kebetulan, tapi hasil seleksi algoritma yang sudah menentukan apa yang layak kita lihat. Ini adalah pembatasan pandangan yang sangat halus, tetapi sangat efektif,” tegasnya.
Menanggapi kekhawatiran publik yang meluas tentang kecerdasan buatan (AI) akan mencuri pekerjaan manusia, Danny Kosasih meluruskan narasi ini dengan pandangan yang lebih provokatif.
“AI tidak mencuri pekerjaan orang, tetapi orang yang menggunakan AI berpotensi mencuri pekerjaan orang lain,” tegas Danny.
Ia menyebut AI bukan musuh, melainkan akselerator kemampuan manusia—membantu membuat keputusan lebih cepat, lebih presisi, dan lebih strategis. Kuncinya, menurutnya, adalah menguasai AI, bukan tunduk padanya.
Danny menambahkan, meskipun demokrasi menjamin kebebasan berpendapat, opini publik kini sering kali terbentuk dari konten algoritmik yang penuh bias. Penyebaran hoaks, echo chambers, dan pembentukan opini yang terpolarisasi adalah bukti nyata bahwa masyarakat kini berada dalam ruang yang dikendalikan oleh sistem yang tidak netral.
Lalu, bagaimana cara memutus rantai feodalisme digital ini? Danny menekankan bahwa AI hanyalah alat yang harus dilatih dan dikendalikan oleh manusia.
“Kita harus melatih AI agar menjadi asisten intelligence kita. Kita yang harus memerintah AI, bukan sebaliknya,” jelasnya.
Ia mengingatkan pentingnya etika, literasi digital yang mendalam, dan yang terpenting, kemampuan berpikir kritis agar manusia tidak sekadar menerima mentah-mentah apa yang disajikan algoritma.
Sebagai penutup, Danny Kosasih memberikan pesan keras. “AI diciptakan manusia. Maka, jangan pernah mendewakan teknologi,” pungkasnya.
Dalam pandangan Founder Dharma Intelligence ini, jika manusia tidak segera sadar akan pergeseran kekuasaan ini, masyarakat global akan terjebak selamanya dalam ‘feodalisme digital’—menjadi rakyat yang dikendalikan oleh algoritma dan korporasi data, bukan oleh kesadaran dan kehendaknya sendiri.











