Kedamaian Bukan Kepasrahan, Menetapkan Batas demi Harga Diri dan Kesehatan Mental

  • Share
Ilustrasi

RBN || Jakarta

Kedamaian batin sering dipersepsikan sebagai kemampuan menahan diri dan menerima segala situasi tanpa perlawanan. Namun riset psikologi menunjukkan hal yang berbeda. Ketenangan yang sehat bukan lahir dari kepasrahan, melainkan dari kemampuan menetapkan batas yang jelas dalam relasi sosial. American Psychological Association menegaskan bahwa kemampuan membangun personal boundaries berperan penting dalam menjaga kesehatan mental, mengurangi stres, dan mencegah kelelahan emosional.

Banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa semakin ramah, semakin sabar, dan semakin pemaaf, maka hidup akan semakin tenang. Padahal tanpa ketegasan, sikap tersebut justru berisiko dimanfaatkan. Psikolog sosial Roy F. Baumeister menjelaskan bahwa ketika seseorang terus memberi tanpa batas, orang lain cenderung menganggapnya sebagai kewajaran. Dalam situasi seperti ini, kebaikan tidak lagi dihargai sebagai pilihan, melainkan dipersepsikan sebagai kewajiban.

Fenomena serupa terjadi dalam praktik memaafkan tanpa evaluasi. Memaafkan memang memiliki manfaat psikologis, termasuk menurunkan tingkat stres dan kemarahan. Namun penelitian di bidang relasi interpersonal menunjukkan bahwa pengampunan tanpa konsekuensi dapat memperkuat pola perilaku negatif. Harriet Braiker dalam studinya tentang dinamika hubungan menyebutkan bahwa perilaku yang terus ditoleransi cenderung berulang. Psikolog klinis Karyl McBride menambahkan bahwa memaafkan tanpa batas dapat mengirim pesan bahwa pelanggaran tidak membawa dampak berarti.

Kebaikan yang tidak disertai kesadaran nilai diri juga dapat mengikis harga diri. Albert Bandura melalui teori self-efficacy menekankan pentingnya keyakinan individu terhadap kompetensi dan nilainya sendiri. Ketika seseorang selalu berkata iya demi diterima, ia berisiko kehilangan posisi tawar dalam relasi. Nilai pribadi tidak dibangun dari pengorbanan tanpa henti, melainkan dari konsistensi menjaga martabat diri.

Masalah lain muncul ketika loyalitas berubah menjadi kebutaan terhadap tanda bahaya. Banyak orang bertahan dalam hubungan yang merugikan karena takut dianggap tidak setia. Padahal psikiater Harville Hendrix mengingatkan bahwa mengabaikan red flags hanya akan memperpanjang siklus luka emosional. Kesetiaan yang sehat selalu bersifat timbal balik dan dibangun di atas rasa hormat yang setara.

Di sisi lain, diam juga tidak selalu menjadi pilihan bijak. Dalam studi komunikasi interpersonal, Deborah Tannen menekankan bahwa kemampuan menyampaikan kebutuhan secara asertif merupakan bagian dari kekuatan pribadi. Psikolog klinis Jordan Peterson bahkan menyatakan bahwa individu perlu memiliki ketegasan agar tidak mudah diperlakukan semena-mena. Diam yang produktif adalah pilihan sadar untuk menjaga energi, bukan refleksi ketakutan.

Pada akhirnya, menjaga kedamaian bukan berarti menghindari konflik, melainkan mengelolanya dengan prinsip yang jelas. Batasan bukan bentuk egoisme, melainkan strategi perlindungan diri. Ketika empati berjalan berdampingan dengan ketegasan, seseorang tidak hanya menjaga stabilitas emosionalnya, tetapi juga membangun relasi yang lebih sehat, adil, dan bermartabat.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *