RBN || Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami curah hujan rendah pada pertengahan Juli 2026. Meluasnya musim kemarau dipengaruhi oleh fenomena El Niño di Samudra Pasifik yang masih bertahan dan berdampak pada penurunan curah hujan di berbagai daerah.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, hingga awal Juli 2026 sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,9 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Angka tersebut meningkat sekitar 11,3 persen dibandingkan periode dasarian sebelumnya.
Selain itu, pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan semakin banyak wilayah yang mengalami kondisi kering. Tercatat sebanyak 329 titik pengamatan mengalami HTH kategori sangat panjang, yakni berlangsung selama 31 hingga 60 hari.
BMKG menjelaskan, kondisi tersebut diperkuat oleh keberadaan massa udara kering dari wilayah selatan Indonesia, terutama di Samudra Hindia bagian selatan Jawa hingga Nusa Tenggara. Fenomena ini mengurangi peluang terbentuknya awan hujan di wilayah selatan Indonesia, seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Memasuki bulan Juli 2026, wilayah di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau terpantau semakin meluas, dengan sebagian wilayah mulai berada pada puncak musim kemarau,” tulis BMKG melalui laman resminya, Sabtu (11/7/2026).
Lembaga tersebut juga menyebutkan bahwa El Niño masih bertahan dengan indeks Niño 3.4 sebesar +1,25 dan Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -24,7. Kondisi ini dinilai masih berpotensi menekan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau tidak berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Dinamika atmosfer regional masih memungkinkan terjadinya hujan di beberapa daerah.
Potensi hujan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer, seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, serta dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Bavi yang saat ini berada di Laut Filipina.
Karena itu, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi meski musim kemarau semakin meluas.
“Perlu dipahami bahwa musim kemarau dan periode peralihan bukan berarti tidak ada hujan. Hujan masih berpotensi terjadi, khususnya saat kondisi atmosfer masih cukup lembap,” imbau BMKG.
Sumber: Okezone











