RBN || Jakarta
Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) kini menghadapi risiko sanksi setelah Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, mengumumkan bahwa timnas Iran memutuskan untuk mundur dari Piala Dunia 2026. Keputusan ini berpotensi menjerat Iran dengan sanksi sesuai regulasi FIFA.
Pasal 6 dalam regulasi Piala Dunia 2026 menyebutkan bahwa tim yang mengundurkan diri dari turnamen lebih dari 30 hari sebelum pertandingan pertama dapat dikenakan denda 250 ribu Franc Swiss (sekitar Rp5,4 miliar). Denda ini berlaku karena Iran memilih mundur jauh sebelum turnamen dimulai, meski Piala Dunia 2026 baru akan dimulai dalam 91 hari lagi.
“Komite Disiplin FIFA akan mengenakan denda 250 ribu Franc Swiss kepada asosiasi anggota yang mundur lebih dari 30 hari sebelum laga pertama,” kata FIFA dalam regulasinya.
Namun, denda ini bisa lebih besar, mencapai 500 ribu Franc Swiss (sekitar Rp10,8 miliar), jika tim mundur dalam waktu 30 hari sebelum turnamen dimulai.
Selain denda, FIFA juga mengatur bahwa negara yang mundur dari Piala Dunia harus mengganti biaya persiapan yang telah dikeluarkan untuk tim. Besaran biaya yang harus dibayar oleh Iran masih belum diketahui, namun ini mencakup segala persiapan yang telah dibiayai oleh FIFA.
“Asosiasi yang mengundurkan diri dari Piala Dunia 2026 wajib mengganti biaya persiapan yang telah dikeluarkan oleh FIFA,” demikian bunyi regulasi FIFA.
Iran juga berisiko mendapat sanksi tambahan berupa larangan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA berikutnya. Ini merupakan hak prerogatif FIFA sebagai badan pengatur tertinggi sepak bola dunia.
“Sanksi disipliner dapat mencakup pengusiran Asosiasi Anggota yang bersangkutan dari kompetisi FIFA berikutnya dan/atau penggantian dengan Asosiasi Anggota lain,” demikian pernyataan lebih lanjut dari FIFA.
Iran seharusnya lolos ke Piala Dunia 2026 setelah berhasil mengamankan tiket pada kualifikasi. Timnas Iran, yang dikenal dengan julukan Team Melli, telah memastikan tempat pada 10 Juni 2025. Namun, ketegangan politik yang meningkat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Februari 2026, mengakibatkan situasi yang semakin memburuk di dalam negeri.
Serangan tersebut mengakibatkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat militer. FFIRI dan Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengikuti arahan pemerintah dan memutuskan untuk menarik tim dari Piala Dunia 2026.
“Setelah serangan ini, kami tidak bisa berharap untuk menghadapi Piala Dunia dengan penuh harapan,” ujar Taj dalam wawancara dengan media Iran pada 1 Maret 2026.
Meskipun Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump membuka pintu bagi keikutsertaan Iran, pemerintah Iran tetap memilih untuk tidak berpartisipasi, termasuk dengan menarik pemain bintang mereka, Mehdi Taremi, dari kompetisi tersebut.
Sumber: CNN Indonesia











