RBN || Jakarta
Ditolak selalu terasa lebih berat daripada yang seharusnya. Sebuah lamaran yang tidak lolos, sebuah ide yang ditampik dalam rapat, sebuah ajakan yang dijawab dengan penolakan halus, atau sekadar rasa bahwa seseorang tidak benar-benar diinginkan dalam sebuah kelompok, dapat meninggalkan rasa sakit yang jauh melampaui besarnya peristiwa itu sendiri. Rasa sakit ini bukan kebetulan, dan bukan pula tanda kelemahan pribadi. Ada penjelasan ilmiah yang cukup mendalam tentang mengapa manusia bereaksi sekeras itu terhadap penolakan.
Psikolog sosial Mark Leary mengembangkan gagasan yang dikenal sebagai sociometer theory, sebuah teori yang menjelaskan bahwa harga diri manusia sesungguhnya berfungsi seperti alat pengukur internal yang terus memantau seberapa besar seseorang diterima atau ditolak oleh lingkungan sosialnya. Menurut Leary, harga diri bukan sekadar penilaian abstrak tentang seberapa baik seseorang menilai dirinya sendiri, melainkan sistem peringatan yang berevolusi untuk membantu manusia bertahan hidup, sebab pada masa lampau, dikucilkan dari kelompok sosial secara harfiah dapat berarti kehilangan perlindungan dan sumber daya yang menentukan hidup dan mati.
Karena fungsi evolusioner inilah, penolakan terasa begitu menyakitkan meski secara rasional seseorang tahu bahwa ditolak dari satu pekerjaan atau satu hubungan tidak akan mengancam keselamatan hidupnya secara langsung. Sistem peringatan dalam diri manusia tidak selalu bisa membedakan antara ancaman keselamatan yang nyata dengan penolakan sosial yang sifatnya jauh lebih ringan, sehingga keduanya sering direspons dengan intensitas emosional yang serupa.
Memahami hal ini penting, sebab ia membantu seseorang menyadari bahwa rasa sakit akibat penolakan bukan bukti bahwa dirinya memang tidak berharga, melainkan sekadar cara kerja alami sistem peringatan sosial yang dimiliki setiap manusia. Rasa sakit itu nyata dan sah untuk dirasakan, tetapi ia tidak seharusnya langsung diterjemahkan sebagai vonis objektif tentang nilai diri seseorang.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika harga diri seseorang terlalu bergantung pada domain tertentu yang sangat rentan terhadap penolakan. Psikolog Jennifer Crocker meneliti fenomena yang disebutnya contingent self worth, yaitu kondisi ketika harga diri seseorang sangat bergantung pada pencapaian di bidang tertentu, seperti penampilan fisik, prestasi akademik, persetujuan orang lain, atau popularitas di media sosial. Crocker menemukan bahwa semakin seseorang menggantungkan harga dirinya pada domain-domain semacam ini, semakin besar pula guncangan emosional yang ia alami setiap kali mengalami kegagalan atau penolakan di domain tersebut.
Yang menarik dari penelitian Crocker adalah temuannya bahwa mengejar validasi di domain-domain rentan ini justru sering kontraproduktif. Orang yang harga dirinya sangat bergantung pada persetujuan orang lain cenderung menjadi lebih cemas, lebih sulit fokus pada tujuan jangka panjang, dan lebih rentan mengalami penurunan performa justru pada saat validasi itu paling dibutuhkan, sebab sebagian besar energi mentalnya habis terpakai untuk memantau dan mengelola kecemasan tentang bagaimana ia dinilai orang lain.
Psikolog Albert Ellis, salah satu pelopor terapi perilaku kognitif, menawarkan gagasan yang disebutnya unconditional self acceptance, penerimaan diri tanpa syarat. Ellis berpendapat bahwa sumber utama penderitaan emosional manusia bukan peristiwa buruk itu sendiri, melainkan keyakinan kaku yang menyertainya, seperti keyakinan bahwa seseorang harus selalu disetujui dan dihargai oleh orang lain agar layak menganggap dirinya berharga. Ketika keyakinan kaku semacam ini dilonggarkan, penolakan tetap terasa tidak menyenangkan, tetapi ia berhenti menjadi ancaman eksistensial terhadap keseluruhan nilai diri seseorang.
Penerimaan diri tanpa syarat bukan berarti seseorang berhenti peduli terhadap penilaian orang lain sama sekali, sebab manusia memang makhluk sosial yang secara alami peduli terhadap pandangan lingkungannya. Yang dimaksud Ellis lebih kepada memisahkan antara menghargai umpan balik orang lain sebagai informasi yang berguna, dengan menjadikan persetujuan orang lain sebagai satu-satunya syarat untuk merasa layak dan berharga sebagai manusia.
Dalam dunia kerja dan personal branding, ketergantungan terhadap validasi eksternal ini terlihat dalam berbagai bentuk yang semakin nyata di era digital. Jumlah tayangan, komentar, undangan kolaborasi, atau pengakuan publik sering dijadikan tolok ukur utama untuk menilai apakah seseorang cukup berhasil atau cukup berarti. Ketika angka-angka tersebut menurun, atau ketika sebuah karya tidak mendapat sambutan seperti yang diharapkan, banyak orang mengalami penurunan rasa percaya diri yang jauh lebih besar dibandingkan dampak nyata dari peristiwa tersebut terhadap kariernya.
Membedakan penolakan sebagai peristiwa dari penolakan sebagai vonis identitas membutuhkan latihan yang konsisten. Ditolak dalam sebuah wawancara kerja berarti kualifikasi atau kecocokan pada momen tersebut belum sesuai dengan kebutuhan yang dicari, bukan berarti seseorang secara keseluruhan tidak kompeten. Sebuah ide yang ditolak dalam rapat berarti ide tersebut belum sesuai dengan konteks atau prioritas saat itu, bukan berarti kemampuan berpikir seseorang secara umum diragukan. Pemisahan semacam ini terdengar sederhana, tetapi membutuhkan kesadaran yang terus dilatih, sebab kecenderungan alami pikiran manusia justru mengarah pada generalisasi yang jauh lebih luas dari yang seharusnya.
Membangun rasa berharga yang tidak terlalu bergantung pada validasi luar juga tidak berarti seseorang harus menjadi acuh terhadap hubungan dan penilaian sosial. Yang diperlukan adalah memperluas sumber makna dan nilai diri, sehingga tidak seluruhnya bertumpu pada satu titik rapuh yang bisa runtuh seketika hanya karena satu penolakan. Seseorang yang memiliki banyak sumber makna dalam hidupnya, seperti hubungan yang sehat, nilai pribadi yang dipegang teguh, dan rasa kompetensi dalam berbagai bidang, cenderung lebih mampu menyerap penolakan tanpa harus meruntuhkan keseluruhan cara pandangnya terhadap diri sendiri.
Penolakan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan setiap orang, dalam bentuk apa pun profesinya, dalam hubungan seperti apa pun yang dijalaninya, dan dalam bidang apa pun yang ia geluti. Yang membedakan seseorang yang terus terpuruk oleh penolakan dengan seseorang yang mampu melangkah maju bukanlah seberapa sering ia ditolak, melainkan sejauh mana ia mampu memisahkan rasa sakit yang wajar dari penolakan itu, dengan keyakinan keliru bahwa penolakan tersebut menentukan seluruh nilai dirinya sebagai manusia.











