Emosi Itu Pengalaman, Bukan Identitas

  • Share
Ilustrasi

RBN || Jakarta

Ada perbedaan kecil dalam bahasa yang jarang disadari, tetapi ternyata membawa dampak besar terhadap cara seseorang menjalani emosinya. Kalimat saya sedang cemas dan saya adalah orang yang cemas terdengar mirip, tetapi keduanya membawa makna yang sangat berbeda. Kalimat pertama menggambarkan sebuah pengalaman yang sedang berlangsung, sesuatu yang datang dan pada waktunya akan berlalu. Kalimat kedua menggambarkan sebuah identitas, seolah kecemasan bukan lagi sesuatu yang dirasakan, melainkan sesuatu yang menjadi bagian permanen dari siapa dirinya.

Neuroscientist Lisa Feldman Barrett, melalui penelitiannya selama bertahun-tahun tentang bagaimana otak menghasilkan emosi, menemukan bahwa emosi bukanlah reaksi otomatis yang sudah terprogram secara kaku sejak lahir, seperti anggapan umum yang sering beredar. Menurut Barrett, otak justru mengonstruksi setiap emosi secara aktif pada saat itu juga, dengan menggabungkan sinyal dari tubuh, pengalaman masa lalu, konteks situasi, serta konsep-konsep bahasa yang dimiliki seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Temuan ini memiliki implikasi yang cukup mengejutkan. Jika emosi memang dikonstruksi, bukan sekadar dipicu secara otomatis, maka cara seseorang memaknai dan memberi label pada pengalaman emosionalnya turut memengaruhi bagaimana emosi tersebut dijalani. Barrett menyebut kemampuan membedakan nuansa emosi secara lebih spesifik sebagai emotional granularity, kemampuan mengenali perbedaan antara kecewa, sedih, lelah, jengkel, dan cemas, alih-alih menyamaratakan semuanya sebagai perasaan buruk yang tidak jelas bentuknya.

Orang yang memiliki emotional granularity tinggi, menurut riset Barrett, cenderung lebih mampu meregulasi emosinya secara sehat, sebab mereka dapat memilih respons yang lebih tepat sasaran ketika mengetahui secara spesifik apa yang sesungguhnya sedang mereka rasakan. Sebaliknya, orang yang hanya mengenali emosinya secara samar, seperti sekadar merasa buruk tanpa mampu menguraikannya lebih jauh, cenderung lebih mudah terjebak dalam respons yang berlebihan atau tidak tepat, sebab mereka tidak benar-benar memahami apa yang sedang mereka hadapi.

Kebiasaan menyatukan diri dengan emosi sering muncul tanpa disadari melalui bahasa sehari-hari. Seseorang berkata saya pemarah, bukan saya sedang marah saat ini. Seseorang berkata saya memang pecemas, bukan saya sedang mengalami kecemasan menghadapi situasi ini. Pengulangan bahasa semacam ini, meski terdengar sepele, perlahan membentuk keyakinan bahwa emosi tertentu adalah bagian tetap dari kepribadian seseorang, bukan pengalaman yang datang dan pergi sesuai konteks yang dihadapinya.

Melatih diri memisahkan emosi dari identitas dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu mengganti cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri saat menghadapi perasaan yang berat. Alih-alih berkata saya hancur, mencoba mengatakan saya sedang merasa sangat terpukul saat ini. Alih-alih berkata saya tidak berguna, mencoba mengatakan saya sedang mengalami perasaan tidak berguna, dan perasaan ini mungkin akan berubah seiring waktu. Perubahan bahasa yang tampak kecil ini, jika dilatih secara konsisten, perlahan mengubah hubungan seseorang dengan emosinya sendiri, dari hubungan yang terjebak dan kaku, menjadi hubungan yang lebih lapang dan penuh ruang untuk bergerak.

Emosi akan selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia, datang silih berganti mengikuti keadaan yang dihadapi, kadang menyenangkan, kadang berat, dan tidak jarang membingungkan. Namun emosi hanyalah pengalaman yang singgah, bukan cetakan permanen yang menentukan siapa seseorang sesungguhnya. Kesediaan untuk merasakan emosi secara penuh, tanpa menekan maupun melebur habis di dalamnya, sekaligus menjaga jarak yang cukup sehat agar tidak menjadikannya sebagai identitas tetap, adalah keterampilan yang layak terus dilatih sepanjang hidup, sebab di situlah letak kebebasan sejati untuk terus bertumbuh, terlepas dari perasaan apa pun yang sedang singgah hari ini.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *