RBN || Jakarta
Ada semacam kepercayaan tidak tertulis yang tumbuh sejak kecil, bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan, kerja keras akan dibalas penghargaan, dan ketulusan akan dibalas ketulusan pula. Kepercayaan ini terasa adil, bahkan menenangkan, sampai suatu hari kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Sudah membantu tanpa diminta, tetap saja dilupakan. Sudah setia menjaga hubungan, tetap saja ditinggalkan. Sudah bekerja melampaui yang diharapkan, tetap saja posisi jatuh ke tangan orang lain yang lebih pandai membangun citra dibandingkan menunjukkan kerja nyata.
Di titik itulah banyak orang mulai mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya diyakini sebagai kebenaran mutlak, apakah menjadi tulus benar-benar sepadan dengan risiko yang harus ditanggung ketika ketulusan itu tidak pernah dibalas setimpal.
Psikolog organisasi Adam Grant menghabiskan bertahun-tahun meneliti pola interaksi manusia dalam dunia kerja dan menemukan tiga kecenderungan dasar yang dimiliki setiap orang. Ada mereka yang disebut giver, cenderung memberi lebih banyak daripada yang mereka terima. Ada taker, cenderung mengambil lebih banyak daripada yang mereka berikan. Ada pula matcher, yang berusaha menjaga keseimbangan, memberi sebanding dengan apa yang mereka terima.
Temuan Grant yang paling menarik justru terletak pada data tentang siapa yang paling sering berada di posisi paling bawah dalam hal kesuksesan maupun kesejahteraan psikologis. Bukan matcher, dan bukan pula taker yang sering dianggap egois. Justru giver, orang-orang yang paling tulus memberi, sering menempati posisi paling rentan, terutama ketika mereka memberi tanpa batas dan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dirinya sendiri.
Namun Grant juga menemukan sesuatu yang tidak kalah penting, bahwa di ujung spektrum yang berlawanan, giver-giver tertentu justru menempati posisi paling sukses dan paling dihargai dalam jangka panjang. Perbedaan di antara keduanya bukan terletak pada seberapa besar mereka memberi, melainkan pada cara mereka memberi. Giver yang rentan adalah mereka yang memberi tanpa batas, mengorbankan kebutuhan diri sendiri demi kepentingan orang lain, dan terus melakukannya bahkan ketika kebaikan itu jelas dimanfaatkan. Giver yang justru berkembang adalah mereka yang tetap tulus, tetapi cukup bijaksana untuk menetapkan batas, mengenali kapan harus berhenti memberi kepada pihak yang jelas hanya mengambil, dan tetap menjaga kepentingan dirinya sendiri sambil terus peduli terhadap orang lain.
Perbedaan ini penting untuk dipahami, sebab banyak orang salah menyimpulkan bahwa ketulusan yang tidak dibalas berarti ketulusan itu sendiri yang keliru. Padahal yang sering keliru bukan nilai ketulusannya, melainkan cara ketulusan itu dijalankan tanpa mempertimbangkan siapa yang layak menerimanya, dan tanpa menjaga keseimbangan antara memberi kepada orang lain dan tetap menghormati kebutuhan diri sendiri.
Persoalan lain yang membuat ketulusan terasa begitu melelahkan adalah harapan tersembunyi yang sering menyertainya. Seseorang mungkin berkata bahwa ia menolong tanpa mengharapkan balasan, tetapi secara tidak sadar tetap menyimpan ekspektasi bahwa kebaikannya akan diperhatikan, diingat, atau setidaknya dihargai dalam bentuk apa pun. Ketika ekspektasi tersembunyi ini tidak terpenuhi, kekecewaan yang muncul terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan kekecewaan yang wajar terjadi dalam interaksi sosial.
Pendekatan psikologi berbasis penerimaan menawarkan cara pandang yang berguna dalam situasi ini, dengan membedakan antara tindakan yang selaras dengan nilai pribadi dan tindakan yang bergantung pada hasil tertentu. Seseorang dapat memilih bersikap jujur karena kejujuran adalah nilai yang ia pegang, bukan karena berharap kejujuran itu akan selalu dihargai orang lain. Ia dapat memilih setia dalam sebuah hubungan karena kesetiaan mencerminkan siapa dirinya, bukan karena menuntut jaminan bahwa pihak lain akan setia dengan cara yang sama. Pergeseran cara pandang ini, dari bertindak demi hasil menuju bertindak demi keselarasan dengan nilai diri sendiri, mengubah ketulusan dari sesuatu yang rentan dikhianati menjadi sesuatu yang tetap utuh, apa pun respons yang diterima.
Bukan berarti kekecewaan menjadi tidak wajar dirasakan. Merasa sedih ketika kebaikan tidak dihargai adalah reaksi manusiawi yang sah. Yang perlu dijaga adalah agar kekecewaan tersebut tidak berkembang menjadi keyakinan bahwa ketulusan itu sendiri adalah kesalahan, sebab keyakinan semacam itu perlahan dapat mengubah seseorang menjadi pribadi yang menutup diri, curiga terhadap setiap kebaikan yang tulus, dan akhirnya kehilangan sesuatu yang sesungguhnya menjadi kekuatan terbesarnya.
Ketulusan yang sehat juga membutuhkan kemampuan membaca situasi dengan jernih. Ada perbedaan besar antara memberi kepada seseorang yang sedang berjuang dan sesekali belum mampu membalas, dengan terus memberi kepada seseorang yang jelas-jelas terbiasa memanfaatkan kebaikan tanpa pernah menunjukkan itikad baik untuk membalasnya. Kepekaan membedakan keduanya adalah keterampilan yang perlu terus diasah, bukan sesuatu yang otomatis dimiliki hanya karena seseorang memiliki hati yang baik.
Menetapkan batas terhadap siapa yang layak menerima ketulusan bukan tanda bahwa seseorang menjadi kurang baik. Batas justru memastikan bahwa energi, waktu, dan perhatian yang dimiliki dapat disalurkan kepada hubungan dan pekerjaan yang benar-benar layak diperjuangkan, alih-alih terus terkuras oleh pihak yang tidak pernah menghargainya.
Ketulusan memang tidak pernah datang dengan jaminan bahwa ia akan selalu dibalas setimpal. Namun ketiadaan jaminan itu bukan alasan untuk berhenti bersikap tulus, melainkan alasan untuk bersikap tulus dengan lebih bijaksana, menjaga keseimbangan antara memberi kepada dunia dan tetap menghormati diri sendiri, sehingga kebaikan yang dijalankan tetap menjadi sumber kekuatan, bukan sumber kelelahan yang terus-menerus menguras.











