RBN || Jakarta
Tumbuhan yang akarnya menghujam dalam ke tanah bisa bertahan menghadapi angin kencang, sementara tumbuhan yang akarnya dangkal, sekuat apa pun batangnya terlihat, akan mudah tumbang begitu badai datang. Nilai diri bekerja dengan logika yang serupa. Seseorang bisa tampak percaya diri di permukaan, tapi jika fondasi nilai dirinya bertumpu pada hal-hal di luar dirinya, ia akan goyah begitu sandaran itu berubah atau hilang.
Ada banyak tempat di mana orang meletakkan akar nilai dirinya tanpa disadari seperti pada jabatan yang disandang, pada jumlah orang yang mengagumi, pada hubungan yang sedang dijalani, pada pencapaian yang baru saja diraih. Semua ini terasa kokoh selama keadaan mendukung. Namun begitu jabatan itu hilang, hubungan itu berakhir, atau pencapaian itu terlupakan seiring waktu, banyak orang mendapati dirinya kehilangan pijakan, seolah nilai dirinya ikut runtuh bersama hal-hal yang selama ini menopangnya.
Akar yang dangkal punya satu ciri khas, yaitu ia membutuhkan pasokan terus-menerus dari luar untuk tetap terlihat hidup. Sama seperti tumbuhan yang bergantung pada air permukaan yang cepat mengering, nilai diri yang bertumpu pada validasi eksternal membutuhkan pasokan pujian, pengakuan, atau pencapaian yang datang berulang kali. Begitu pasokan itu berhenti sejenak saja, muncul kegelisahan, keraguan, bahkan rasa hampa yang sulit dijelaskan, seolah ada sesuatu yang mendadak kosong di dalam diri.
Berbeda dengan itu, akar yang menghujam dalam mengambil sumber kehidupannya dari lapisan yang lebih stabil, jauh dari permukaan yang mudah berubah. Dalam konteks nilai diri, ini berarti sumber kepercayaan diri yang berasal dari pemahaman mendalam tentang siapa seseorang sesungguhnya pada nilai-nilai yang dipegang, karakter yang dibangun dari waktu ke waktu, dan hubungan yang dijalin dengan diri sendiri, bukan sekadar dengan citra yang ditampilkan kepada dunia luar.
Menariknya, proses menumbuhkan akar yang dalam ini justru sering terjadi di masa-masa paling sulit, bukan di masa kejayaan. Ketika seseorang kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi sandaran, entah kehilangan pekerjaan, kehilangan hubungan, atau kehilangan pengakuan yang biasa diterima, ia dipaksa untuk mencari sumber nilai dirinya di tempat lain. Pada titik itulah banyak orang menemukan bahwa mereka sebenarnya lebih dari sekadar peran atau pencapaian yang selama ini melekat pada diri mereka.
Menumbuhkan akar yang dalam juga berarti bersedia menghadapi periode ketika tidak ada yang bisa dibanggakan secara langsung kepada dunia luar, dan tetap merasa cukup di dalamnya. Ini bukan proses yang instan. Sama seperti akar tumbuhan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar kuat menembus lapisan tanah yang keras, nilai diri yang kokoh juga terbentuk melalui pengulangan kecil dari waktu ke waktu misalnya memilih untuk tetap menghargai diri sendiri meski tidak sedang mendapat sorotan, memilih untuk tetap merasa cukup meski pencapaian belum terlihat besar di mata orang lain.
Ada godaan untuk terus memperkuat akar di permukaan, karena hasilnya lebih cepat terlihat. Pujian bisa datang dalam hitungan menit setelah sebuah unggahan dibagikan, pengakuan bisa didapat segera setelah pencapaian diumumkan. Sementara menumbuhkan akar yang dalam terasa lambat, sunyi, dan sering kali tidak terlihat oleh siapa pun kecuali diri sendiri. Namun kecepatan pertumbuhan di permukaan itu justru menjadi sinyal betapa rapuhnya fondasi yang dibangun, karena apa yang cepat tumbuh di permukaan biasanya juga cepat layu ketika kondisinya berubah.
Merawat akar yang dalam membutuhkan kesediaan untuk sesekali menjauh dari kebisingan validasi eksternal, memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertanya tanpa gangguan pada apa yang sesungguhnya kupegang teguh, terlepas dari apa yang orang lain pikirkan tentangku. Pertanyaan semacam ini tidak selalu memberi jawaban instan, tapi pengulangannya dari waktu ke waktu perlahan memperkuat lapisan nilai diri yang tidak mudah goyah oleh perubahan keadaan.
Seseorang dengan akar nilai diri yang dalam tidak berarti kebal dari kegagalan atau penolakan. Ia tetap merasakan kecewa, tetap merasakan sakit ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Perbedaannya terletak pada apa yang tersisa setelah badai itu berlalu, bagi yang akarnya dangkal, badai bisa menumbangkan seluruh rasa berharga yang dimiliki, sementara bagi yang akarnya dalam, badai memang mengguncang, tapi tidak sampai mencabut fondasi yang telah tertanam jauh di bawah permukaan yang terlihat.











