RBN || Jakarta
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup dalam pada sesi pertama perdagangan Selasa (12/5/2026). Pelemahan pasar saham terjadi di tengah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp17.500, ditambah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan data RTI, IHSG ditutup melemah 1,43 persen ke posisi 6.807,12 pada akhir sesi pertama. Sementara indeks saham unggulan LQ45 juga terkoreksi 0,83 persen menjadi 663,10.
Mayoritas sektor saham bergerak di zona merah dan membebani laju indeks sepanjang perdagangan.
Ekonom BCA, David Sumual, menilai tekanan terhadap IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
“Dari sentimen eksternal masih terkait ketidakpastian geopolitik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak. Kedua, isu domestik terkait dengan koreksi harga saham komoditas mineral. Selain itu, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS yang berada di kisaran 17.450-17.550 juga mempengaruhi IHSG,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia mengatakan pelemahan IHSG sejalan dengan koreksi yang juga terjadi di mayoritas bursa saham Asia.
“Kami memperkirakan hal ini dikarenakan perundingan Amerika Serikat-Iran masih belum menemukan jalan keluarnya dan dikhawatirkan investor akan berkepanjangan,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.
Selain isu geopolitik, investor juga masih menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat serta pengumuman indeks MSCI yang dinilai dapat mempengaruhi arah pasar global.
Pada sesi pertama perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.977,28 dan terendah 6.802,84. Sebanyak 456 saham terkoreksi, 192 saham menguat, sedangkan 166 saham bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 1.491.031 transaksi dengan volume 18,9 miliar saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp7,5 triliun. Sementara kurs dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran Rp17.503.
Dari sisi sektoral, hanya sektor transportasi yang berhasil menguat sebesar 2,73 persen. Adapun sektor industri mencatat pelemahan terdalam hingga 3,44 persen.
Selain itu, sektor infrastruktur turun 2,89 persen, sektor kesehatan melemah 2,24 persen, sektor consumer nonsiklikal turun 1,51 persen, teknologi terkoreksi 1,51 persen, dan sektor siklikal melemah 1,22 persen.
Sektor energi ikut turun 0,77 persen, properti melemah 0,64 persen, basic industry turun 0,38 persen, sedangkan sektor keuangan terkoreksi tipis 0,11 persen.
Di jajaran saham unggulan, saham BBCA turun 1,22 persen menjadi Rp6.075 per saham. Nilai transaksi saham BBCA mencapai Rp308,2 miliar dengan frekuensi perdagangan sebanyak 15.311 kali.
Sementara saham SIDO melemah 0,84 persen ke level Rp472 per saham.
Adapun saham PGEO bergerak stagnan di posisi Rp995 per saham.
Di tengah tekanan pasar, saham TOOL justru mencatat penguatan tertinggi dengan kenaikan 6,41 persen menjadi Rp83 per saham.
Sumber: Liputan6











