Rendahnya Kesadaran Berlalu Lintas Disorot Usai Tragedi Kecelakaan Kereta di Bekasi

  • Share
Taksi listrik ditabrak kereta di Bekasi. (Foto: Nasywa Fauziah/detikFoto)

RBN || Jakarta

Tragedi kecelakaan beruntun yang melibatkan KRL Commuter Line dan Argo Bromo Anggrek di kawasan Stasiun Bekasi Timur kembali membuka mata publik terhadap rendahnya kesadaran keselamatan berlalu lintas di Indonesia.

Insiden maut tersebut diduga bermula dari sebuah taksi listrik Green SM yang terjebak di perlintasan rel. Kereta komuter yang melintas lebih dulu menabrak kendaraan tersebut, menyebabkan gangguan operasional. Dalam kondisi tersebut, rangkaian kereta lain tertahan di stasiun hingga akhirnya ditabrak kereta jarak jauh yang melaju di jalur yang sama. Akibatnya, sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Praktisi keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, menilai tragedi ini tidak lepas dari lemahnya safety awareness di masyarakat.

Menurutnya, rendahnya kesadaran keselamatan membuat banyak pengendara cenderung mengabaikan risiko dan aturan lalu lintas. “Mereka sering merasa tidak akan terjadi apa-apa, padahal potensi bahaya selalu ada,” ujarnya.

Perilaku berisiko seperti menerobos palang pintu kereta, menggunakan ponsel saat berkendara, tidak memakai sabuk pengaman atau helm, hingga melawan arus menjadi gambaran nyata lemahnya disiplin di jalan. Bahkan, kebiasaan melanggar tanpa konsekuensi turut memperparah situasi.

Jusri menjelaskan, ada beberapa faktor utama yang memicu kondisi ini. Mulai dari kurangnya edukasi, kebiasaan buruk yang terus berulang, hingga rasa percaya diri berlebihan yang membuat pengendara meremehkan risiko. Selain itu, lingkungan sosial yang permisif terhadap pelanggaran serta lemahnya penegakan hukum juga menjadi penyebab penting.

“Jika pelanggaran terus dibiarkan tanpa sanksi tegas, maka tidak akan ada efek jera. Ini yang membuat perilaku berbahaya terus berulang,” tegasnya.

Tragedi di Bekasi menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, hingga aparat penegak hukum. Tanpa perubahan pola pikir dan disiplin kolektif, risiko kecelakaan serupa akan terus mengintai.

Sumber: DetikOto

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *