Toleransi Bukan Slogan, MUI Ajak Masyarakat Praktikkan dalam Kehidupan Nyata  

  • Share

RBN || Jakarta

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan komitmennya dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks. Wakil Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama (KKAUB) MUI, Dr. Ir. H. Iskandar Turusi, M.P.MM, menyebut kerukunan adalah pilar utama persatuan bangsa yang majemuk.

Menurutnya, Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama memiliki peran strategis sebagai mediator ketika terjadi gesekan antar umat, membangun dialog lintas iman, serta memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah.

“Kami hadir bukan hanya untuk meredam konflik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa,” ujarnya.

Dr. Iskandar menyoroti tantangan utama saat ini, yaitu derasnya arus informasi di media sosial yang kerap digunakan untuk menyebarkan hoaks dan isu intoleransi. “Media sosial sering kali memperbesar isu sensitif yang bisa memicu konflik jika tidak dikelola dengan bijak,” jelasnya.

MUI menilai tingkat toleransi masyarakat Indonesia secara umum cukup baik, terbukti dari banyaknya komunitas lintas agama yang hidup berdampingan. Namun, kasus intoleransi yang muncul di ruang publik tetap menjadi perhatian.

“Toleransi tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Sejumlah program konkret telah dilakukan MUI untuk memperkuat harmoni, di antaranya dialog lintas agama, pelatihan kader kerukunan, seminar kebangsaan, hingga kegiatan sosial bersama. Kerja sama juga dijalin dengan ormas Islam, organisasi keagamaan lain seperti PGI, KWI, WALUBI, PHDI, Matakin, serta lembaga pemerintah. Forum kerukunan nasional menjadi salah satu wujud sinergi tersebut.

Generasi muda disebut memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan, terutama melalui ruang digital. MUI mendorong keterlibatan mereka dalam pelatihan kepemimpinan lintas agama dan kampanye toleransi di media sosial. “Anak muda harus menjadi agen perdamaian karena mereka lebih adaptif terhadap teknologi,” kata Dr. Iskandar.

Ia menekankan bahwa kunci utama menjaga kerukunan adalah sikap saling menghormati, komunikasi terbuka, dan kesadaran bahwa perbedaan adalah kekayaan bangsa. Dalam hal ini, media dinilai berperan vital: bisa memperkuat persatuan jika mengedepankan jurnalisme damai, tetapi juga berpotensi melemahkan harmoni jika hanya menyoroti konflik.

Di akhir pernyataannya, Dr. Iskandar menyampaikan pesan khusus untuk generasi muda agar bijak dalam menghadapi perbedaan. “Jangan mudah terprovokasi. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan. Indonesia berdiri di atas keberagaman, dan kerukunan adalah kunci utama menjaga keutuhan bangsa,” pungkasnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *