RBN || Lampung
Di tengah semangat kemerdekaan Indonesia ke-80, bendera merah putih tetap berkibar gagah di Desa Way Haru, Kecamatan Bengkunat,Kabupaten Pesisir Barat. Namun, di balik kibaran sang saka jalan utama yang menjadi urat nadi Desa Way Haru hancur dan jembatan penghubung yang rusak sejak 16 Maret 2025 hingga sekarang tak kunjung diperbaiki.
Setiap hari, warga harus melewati jalan yang penuh lubang dan berlumpur untuk membawa keluar hasil bumi berupa kopi, kelapa, dan sebagainya. Sementara jembatan yang runtuh membuat perjalanan warga semakin membahayakan dan mempertaruhkan nyawa karena warga harus menyebrangi muara dengan arus yang besar hanya menggunakan rakit seadanya.
“Indonesia telah merdeka 80 Tahun lamanya, tapi kami masih merasa terkurung. Jalan hancur jembatan tak ada, mau keluar desa saja kami harus bertarung dengan nyawa” keluh seorang warga.
Upaya perbaikan sudah berkali-kali dijanjikan pemerintah, namun hingga kini belum terealisasi. Salah satu kendala disebutkan karena sebagian jalur masuk dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), sehingga pembangunan perlu izin khusus. Tetapi bagi masyarakat, alasan tersebut tidak bisa terus menerus dijadikan tameng.
“kalau alasannya selalu taman nasional, lalu nasib kami bagaimana? Kami juga manusia yang ingin hidup layak” tambah warga lainnya.
Kerusakan jalan dan jembatan bukan sekedar menghambat aktivitas harian, tetapi juga berpotensi menutup ekonomi desa. Hasil kopi dan kelapa yang melimpah sulit dipasarkan, biaya angkut membengkak dan pembeli enggan masuk ke Desa.
Merah putih yang berkibar di tepi jalan rusak menjadi saksi bisu bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya hadir di Way Haru. Jalan hancur dan jembatan roboh masih menjadi penghalang nyata bagi warga untuk benar-benar merdeka.











