Pesan Darurat dari Lantai 33: Kisah Iwan Selamatkan Diri dan Balita Saat Kebakaran Apartemen

  • Share
Foto: Antara

RBN || Jakarta

Peristiwa kebakaran di Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Kamis (30/4), menyisakan kisah dramatis dari salah satu penghuninya. Sepotong baju bertuliskan permintaan tolong yang jatuh ke halaman apartemen menjadi penanda perjuangan seorang ayah menyelamatkan diri bersama anaknya yang masih balita.

Penghuni tersebut, Iwan Ogan Apriansyah, terjebak bersama putranya, Agra Cakrawala Ogan alias Bujang, di unit mereka di lantai 33 saat api mulai melalap bangunan.

Dalam kondisi darurat dan tanpa komunikasi, Iwan mengambil langkah tak biasa. Ia menuliskan pesan bantuan di pakaian dan melemparkannya ke bawah.

“Karena belum ada respons, saya ambil lagi beberapa baju. Beberapa baju saya sertakan nomor ponsel. Lantas baju-baju itu saya lempar ke bawah,” kata Iwan kepada kumparan, Minggu (3/5).

Kejadian bermula dari pagi yang awalnya berjalan normal. Iwan dan anaknya tengah bermain di kamar, tanpa firasat akan datangnya bahaya.

“Hingga pukul 07.30 tidak ada yang janggal. Bersiap untuk sarapan,” ucap Iwan.

Namun sekitar 15 menit kemudian, suasana berubah drastis. Bau asap mulai tercium. Rasa curiga membuat Iwan membuka pintu kamar dan mendapati asap mulai masuk dari arah tangga darurat.

“Saya mulai curiga dan membuka sedikit pintu utama kamar. Kabut asap terlihat menembus dari pintu tangga darurat. Buru-buru masuk kembali,” katanya.

Ia kemudian mencoba mencari bantuan dengan menghubungi keluarga, pengelola apartemen, hingga resepsionis. Namun semua upaya gagal karena jaringan komunikasi lumpuh.

“Buru-buru ambil ponsel untuk menghubungi kontak orang terdekat, pengelola, resepsionis, istri. Tapi nihil. Tak ada sinyal sama sekali. Saya kirim chat ke orang-orang tersebut, cuma muter-muter gak terkirim. Coba gunakan interkom untuk menelepon ke bawah, tak berfungsi,” ungkap dia.

Situasi semakin mencekam saat listrik padam dan asap makin pekat.

“Perasaan semakin campur aduk. Gemetar. Pikiran mulai blank. Aroma asap makin terasa di hidung,” tutur Iwan.

Di tengah kepanikan, justru sang anak memberikan ketenangan.

“Ayah, kita jangan panik. Nanti kita meleleh kalau panik,” kata Iwan menirukan ucapan anaknya.

Ucapan polos itu membuat Iwan berpikir jernih. Ia sempat mencoba menyelamatkan diri melalui tangga darurat dengan kain basah sebagai pelindung pernapasan. Namun upaya tersebut terhenti karena asap terlalu tebal.

Ia bahkan sempat naik ke rooftop lantai 36, tetapi pintu dalam kondisi terkunci. Iwan akhirnya kembali ke unitnya dan berusaha menahan asap dengan menutup celah menggunakan kain basah.

Dari balkon, ia berteriak meminta tolong sambil melambaikan pakaian. Namun tak kunjung mendapat respons. Hingga akhirnya muncul ide menuliskan pesan di baju.

“Saya ambil lagi beberapa baju, tapi kali ini saya beri tulisan, ‘C 33 GK/2 ORG: IWAN+BUJANG’,” ungkap dia.

Usaha itu membuahkan hasil. Sekitar pukul 08.55 WIB, ponselnya akhirnya berdering.

“Ternyata itu petugas damkar. Alhamdulillah. Hati dan pikiran saya mulai tenang,” ujarnya.

Petugas meminta Iwan tetap berada di balkon sambil menunggu proses evakuasi. Sekitar pukul 10.20 WIB, tim pemadam kebakaran berhasil mencapai unitnya dan mengevakuasi keduanya dengan selamat.

“Secara umum kondisi kami baik. Sekarang lagi menyesuaikan dengan kondisi apartemen pascakebakaran. Misalnya tetap pakai masker saat keluar unit karena di lift dan lobi masih tercium aroma asap,” ujar Iwan.

Saat ini, sebagian penghuni sudah kembali ke unit masing-masing, meski masih ada yang memilih tinggal sementara di pengungsian.

“Kami sudah berada di unit. Mungkin sekitar separuh sudah mulai menempati unit masing-masing. Sisanya masih berada di beberapa hotel tempat pengungsian,” tandasnya.

Kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat, sekaligus potret keteguhan seorang ayah dan ketenangan seorang anak di tengah bencana.

Sumber: Kumparan

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *