RBN || Tangerang
Predikat Kota Sangat Inovatif yang diraih Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang dari Kementerian Dalam Negeri tak ingin berhenti sebagai capaian administratif. Pemkot kini menantang aparatur sipil negara (ASN) dan perangkat daerah untuk memastikan inovasi benar-benar berdampak pada kualitas pelayanan publik dan pembangunan kota.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Tangerang memberikan penghargaan kepada inovator pelayanan publik dalam Forum Kelitbangan yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di Aula Al-Amanah, Gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Selasa (16/12/2025).
Wali Kota Tangerang Sachrudin, menegaskan bahwa apresiasi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan instrumen untuk memaksa lahirnya inovasi yang aplikatif dan berkelanjutan. “Penghargaan ini menjadi stimulus agar ASN dan perangkat daerah tidak berhenti berinovasi, tetapi menghadirkan solusi yang nyata bagi pelayanan publik dan pembangunan,” ujar Sachrudin.
Dengan Indeks Inovasi Daerah sebesar 72,94, Sachrudin menilai capaian Kota Tangerang sebagai Kota Sangat Inovatif Tahun 2025 justru menempatkan pemerintah daerah pada tanggung jawab yang lebih besar. “Capaian ini bukan garis akhir. Justru menjadi pemicu agar kita terus bergerak maju dan tidak terjebak pada rutinitas,” katanya.
Ia mengingatkan, dinamika pembangunan dan kompleksitas persoalan perkotaan menuntut pemerintah daerah untuk adaptif dan responsif. Tanpa inovasi yang berbasis kebutuhan riil masyarakat, target pembangunan berpotensi stagnan.
Dalam konteks itu, Forum Kelitbangan disebut Sachrudin sebagai ruang strategis untuk memastikan riset dan inovasi tidak berhenti di atas kertas. “Forum ini harus mampu melahirkan rekomendasi kebijakan yang solutif, berbasis riset, dan relevan dengan isu strategis Kota Tangerang,” ujarnya.
Pemkot Tangerang pada kesempatan tersebut memberikan penghargaan kepada Perangkat Daerah Terinovatif, yakni Dinas Kesehatan, Dinas Komunikasi dan Informatika, Bappeda, Dinas Sosial, serta Kecamatan Cibodas.
Sementara Inovasi Terbaik Kota Tangerang diberikan kepada Yunita Virdianti (BKPSDM) melalui inovasi Tangerang Government University, Sugiharto Achmad Subagja (DPMPTSP) dengan Layanan PBG 10 Jam, serta Riskha Nur Fatmawati (Dinas Kesehatan) melalui inovasi Satu Gada.
Kepala Bappeda Kota Tangerang, Yeti Rohaeti, menekankan bahwa penguatan inovasi daerah harus ditopang oleh riset yang implementatif, bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Menurut Yeti, Bappeda secara konsisten menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi agar hasil riset dapat langsung digunakan sebagai dasar perencanaan pembangunan daerah.
“Riset tidak boleh berhenti sebagai dokumen. Kami pastikan kajian yang dihasilkan benar-benar memberi manfaat bagi perencanaan dan kebijakan pemerintah daerah,” ujar Yeti. Ia mengungkapkan, setiap tahun Bappeda membuka ruang partisipasi akademisi, baik melalui kerja sama langsung maupun lomba riset seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI).
Menepis anggapan bahwa hasil riset hanya berakhir di arsip, Yeti mencontohkan kajian penanganan sampah yang telah disiapkan untuk diimplementasikan. “Hasil riset ini akan menjadi bahan perencanaan pembangunan tahun 2027 dan dibahas bersama OPD teknis agar bisa diterapkan secara nyata,” pungkasnya.











