RBN || Jakarta
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta, Nahdiana mengajak para siswa memanfaatkan waktu istirahat dan waktu luang di sekolah untuk berinteraksi langsung dengan teman setelah terbitnya edaran pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah.
Menurut Nahdiana, kebijakan tersebut bertujuan menghidupkan kembali interaksi sosial antarpelajar yang dinilai mulai berkurang akibat penggunaan gawai.
“Waktu istirahat bisa dimanfaatkan untuk ngobrol dengan teman. Anak-anak juga dibiasakan membaca sebelum masuk kelas, lalu bisa saling bercerita tentang buku yang dibaca,” ujar Nahdiana, Jumat (24/4).
Ia berharap, pembatasan penggunaan gawai tidak hanya meningkatkan interaksi sosial, tetapi juga mendorong minat baca siswa.
Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, Subki turut mendukung kebijakan pembatasan gawai di sekolah. Ia menilai, pembatasan penggunaan gawai perlu diperluas hingga ke lingkungan rumah.
“Kalau di sekolah sudah dibatasi, di rumah jangan terus-menerus pakai gadget juga,” kata Subki.
Ditegaskan Subki, peran keluarga sangat penting dalam mendukung kebijakan tersebut. Tanpa keterlibatan orang tua, aturan di sekolah dinilai tidak akan berjalan optimal.
“Peran orang tua penting. Kalau hanya mengandalkan edaran di sekolah, tapi di rumah tidak diterapkan, tentu tidak akan efektif,” tegasnya.
Ia juga berharap kebijakan ini dapat melindungi siswa dari paparan konten negatif, termasuk yang berpotensi mengarah pada radikalisme.
Sekadar diketahui, Disdik DKI Jakarta telah menerbitkan Surat Edaran Nomor e-0001/SE/2026 tentang pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah.
Melalui kebijakan ini, ponsel dan tablet wajib dinonaktifkan serta disimpan di tempat khusus selama jam pelajaran, kecuali digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Sekolah juga menyediakan narahubung yang dapat dihubungi orang tua dalam kondisi darurat.
sumber: berita jakarta











