RBN || Jakarta
Ketersediaan minyak goreng rakyat merek Minyakita di sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi kendala serius. Perum Bulog mengakui bahwa keterbatasan pasokan dari produsen menjadi faktor utama yang menghambat distribusi, terutama di kawasan timur Indonesia.
Kepala Divisi Perencanaan Operasi dan Analisis Harga Bulog, Muhammad Wawan Hidayanto, menyampaikan bahwa hingga kini belum ada tambahan pasokan signifikan dari produsen. Kondisi tersebut membuat penyaluran Minyakita ke pasar rakyat belum merata.
“Minyakita komersial di beberapa wilayah memang sangat terbatas, karena belum ada tambahan pasokan dari produsen,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026.
Sepanjang tahun ini, Bulog mencatat telah mendistribusikan sekitar 92 ribu kiloliter Minyakita, dengan 45 persen di antaranya disalurkan ke pasar SPHP dan pasar rakyat. Namun, distribusi di lapangan masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari pasokan yang tersendat hingga tingginya biaya logistik.
Wilayah kepulauan dan pegunungan seperti Maluku dan Papua menjadi tantangan tersendiri. Untuk menjangkau daerah pedalaman di Papua, misalnya, distribusi harus melalui jalur berlapis dikirim terlebih dahulu ke Jayapura sebelum dilanjutkan ke wilayah tujuan. Skema ini membuat biaya pengiriman melonjak, sementara subsidi angkutan masih terbatas.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur seperti gudang distribusi dan minimnya modal mitra penyalur turut memperlambat pemerataan pasokan. Bulog mengaku terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Pangan Nasional dan Kementerian Perdagangan, guna memperluas jangkauan distribusi.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, menyoroti dampak terbatasnya pasokan Minyakita terhadap perilaku pasar. Ia menilai kelangkaan ini mendorong masyarakat beralih ke minyak goreng curah, sehingga harga komoditas tersebut mengalami kenaikan signifikan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rata-rata harga minyak goreng nasional naik 1,50 persen pada pekan keempat April menjadi Rp19.648 per liter. Kenaikan tertinggi terjadi pada minyak goreng curah yang melonjak 3,24 persen, sementara Minyakita relatif stabil di kisaran Rp16.357 per liter.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengungkap adanya tekanan biaya dari sisi bahan baku kemasan yang turut memengaruhi harga minyak goreng. Meski demikian, faktor utama yang dinilai paling berpengaruh tetaplah tersendatnya pasokan.
Menariknya, secara data nasional, stok Minyakita sebenarnya masih tergolong cukup. Kementerian Perdagangan mencatat sekitar 40 persen stok nasional—setara 193.236 ton—dikuasai Bulog dan dinilai masih bisa dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan pasar rakyat.
Perbedaan antara ketersediaan stok di atas kertas dan kondisi nyata di lapangan menjadi tantangan yang perlu segera diatasi. Pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat sistem distribusi agar akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok tetap terjaga secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Sumber: CNN Indonesia











