Bantuan Minim, Gaza Terancam Kelaparan dan Krisis Tempat Tinggal Jelang Musim Dingin
RBN || Palestina
Hampir empat minggu setelah gencatan senjata diumumkan, aliran bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza masih jauh dari mencukupi. Seiring datangnya musim dingin, organisasi kemanusiaan memperingatkan potensi kelaparan massal dan krisis tempat tinggal di wilayah yang telah luluh lantak akibat dua tahun ofensif militer Israel.
Padahal, gencatan senjata seharusnya menjadi momentum untuk memperlancar masuknya bantuan bagi 2,3 juta penduduk Gaza, sebagian besar di antaranya kini hidup tanpa rumah akibat serangan udara dan darat. Namun, data World Food Programme (WFP) menunjukkan, hanya sekitar setengah dari kebutuhan pangan yang berhasil masuk ke wilayah tersebut.
Kelompok lembaga kemanusiaan Palestina memperkirakan volume bantuan yang tiba di Gaza baru mencapai 25 hingga 30 persen dari total yang dijanjikan.
Sementara itu, Israel mengklaim telah memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan gencatan senjata dengan mengizinkan rata-rata 600 truk bantuan per hari masuk. Namun, Israel menuding Hamas menjarah bantuan sebelum dibagikan kepada warga.
Hamas membantah tuduhan tersebut dan menyatakan sebagian besar truk tidak pernah mencapai tujuan karena pembatasan ketat dari pihak Israel. Data lokal menunjukkan hanya sekitar 145 truk per hari yang benar-benar berhasil menyalurkan bantuan ke masyarakat.
Menariknya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kini tidak lagi merilis secara rutin jumlah truk bantuan yang masuk ke Gaza seperti sebelumnya.
“Kondisinya sangat buruk. Tidak ada tenda yang layak, air bersih, makanan cukup, atau uang,” kata Manal Salem (52), warga Khan Younis, Gaza Selatan, kepada Reuters.
Ia kini tinggal di tenda yang telah usang dan khawatir tidak akan sanggup menghadapi udara dingin yang kian menusuk.
Meski demikian, OCHA (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs) mencatat ada sedikit perbaikan sejak pertengahan Oktober. Angka anak-anak yang menderita malnutrisi akut turun dari 14 persen pada September menjadi 10 persen pekan lalu.
Lebih banyak keluarga kini bisa makan dua kali sehari, naik dari sebelumnya hanya satu kali pada Juli, terutama di wilayah selatan Gaza. Namun, kondisi di bagian utara masih jauh lebih parah.
“Kami benar-benar berpacu dengan waktu,” ujar Abeer Etefa, juru bicara senior WFP.
“Kami butuh akses penuh. Bantuan harus bergerak cepat. Musim dingin datang, orang-orang masih kelaparan, dan kebutuhannya sangat besar.”
Sejak gencatan senjata, WFP telah mengirim sekitar 20 ribu ton makanan, baru setengah dari kebutuhan total. Lembaga itu baru mampu membuka 44 dari 145 titik distribusi yang direncanakan.
Namun, variasi pangan masih sangat terbatas.
“Sebagian besar keluarga hanya mengonsumsi sereal, kacang-kacangan, dan bahan pangan kering. Daging, telur, sayuran, dan buah hampir tak pernah mereka makan,” tambah Etefa.
Kekurangan bahan bakar, termasuk gas untuk memasak, membuat banyak warga terpaksa membakar sampah untuk menyiapkan makanan, meningkatkan risiko kesehatan. Lebih dari 60 persen warga Gaza kini hidup dalam kondisi demikian, menurut OCHA.
Selain krisis pangan, tempat tinggal juga menjadi masalah besar. Banyak tenda mulai robek, dan sebagian bangunan yang masih berdiri tidak lagi aman.
“Kami akan segera memasuki musim hujan. Ancaman banjir dan penyakit bisa meningkat karena tumpukan sampah di sekitar permukiman,” ujar Amjad al-Shawa, Kepala kelompok lembaga kemanusiaan Palestina yang bekerja sama dengan PBB.
Ia memperkirakan, hingga kini baru 25–30 persen dari total bantuan yang direncanakan benar-benar tiba di Gaza.
Menurut Shaina Low dari Norwegian Refugee Council, sekitar 1,5 juta warga Gaza kini membutuhkan tempat tinggal. Namun, pengiriman tenda, terpal, dan perlengkapan dasar masih tertunda karena menunggu izin dari Israel.
“Situasi hidup di Gaza benar-benar di luar bayangan,” ujarnya. “Orang-orang tidak hanya kehilangan rumah, tapi juga kehilangan harapan di tengah musim dingin yang semakin dekat.”
Empat minggu setelah senjata berhenti, Gaza masih berjuang antara kelaparan, dingin, dan keterbatasan akses bantuan. Upaya internasional terus dilakukan, tetapi tanpa akses penuh dan kebebasan distribusi, waktu semakin menekan jutaan warga yang bergantung pada uluran tangan dunia.
“Gencatan senjata bukan berarti akhir penderitaan,” kata seorang relawan lokal. “Bagi warga Gaza, ini baru awal dari perjuangan untuk bertahan hidup.”
Sumber: CNN
