Banjir Awal Tahun 2026 Hancurkan 28 Hektare Tanaman Padi Di Ponorogo

  • Share
Sawah yang terendam banjir di Ponorogo. (Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim)
Sawah yang terendam banjir di Ponorogo. (Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim)

RBN || Ponorogo

Banjir yang melanda Kabupaten Ponorogo pada awal tahun 2026 membawa dampak serius bagi para petani. Ribuan hektare lahan persawahan terendam, dan tanaman padi yang seharusnya menjadi sumber pendapatan utama kini rusak tak tersisa. Banyak petani yang harus menanggung kerugian besar akibat gagal panen.

Menurut Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, sedikitnya 28 hektare sawah dipastikan putus (puso) setelah terendam banjir dalam waktu yang cukup lama. Lahan yang rusak tersebar di beberapa kecamatan, terutama Siman dan Jetis, dengan kerusakan terparah di Desa Madusari, Josari, dan Winong.

Suwarni, Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dispertahankan Ponorogo, menjelaskan bahwa genangan air yang bertahan lebih dari lima hari membuat tanaman padi tidak dapat diselamatkan. Menurutnya, apabila padi terendam lebih dari lima hari, hampir pasti tanaman tersebut mati.

“Ini yang sedang terjadi di lapangan,” ujar Suwarni, Rabu (7/1/2026).

Kerugian bagi petani belum sepenuhnya berakhir, karena hingga saat ini air masih menggenangi beberapa wilayah, terutama di Kecamatan Balong. Dispertahankan memperkirakan jumlah lahan yang gagal panen masih berpotensi bertambah jika genangan air tidak segera surut.

Banjir pascahujan deras awal tahun ini sudah menggenangi sekitar 538 hektare lahan persawahan di tujuh kecamatan. Usia tanaman padi yang terendam bervariasi antara 7 hingga 35 hari, sehingga dampak kerugian bagi para petani pun berbeda-beda.

Di tengah kesulitan ini, sebagian petani mendapatkan sedikit bantuan berkat partisipasinya dalam program asuransi pertanian. Program ini diharapkan dapat mengurangi beban kerugian akibat bencana alam yang terjadi di luar kendali petani.

“Harapannya petani mau ikut asuransi, sehingga saat bencana terjadi, kerugian tidak sepenuhnya ditanggung sendiri,” kata Suwarni.

Selain program asuransi, Dispertahankan Ponorogo juga menyiapkan bantuan cadangan benih bagi petani yang tanamannya mati akibat banjir. Petani juga diminta untuk waspada terhadap potensi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), seperti wereng, agar penderitaan mereka akibat gagal panen tidak semakin bertambah.

 

Sumber: detikcom

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *