RBN || Surabaya
Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas buku pelajaran dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) mendapat respons positif dari kalangan akademisi. Namun, pemerintah diingatkan agar pembaruan buku tidak hanya berfokus pada materi dan kualitas fisik, tetapi juga memperhatikan aspek keberagaman dan potensi bias.
Praktisi pendidikan dan kajian budaya Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menilai peningkatan kualitas buku pelajaran merupakan langkah penting untuk mendorong perbaikan pendidikan nasional.
Menurut Radius, buku pelajaran memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir dan cara pandang peserta didik. Karena itu, proses evaluasi dan pembaruan buku perlu dilakukan secara menyeluruh.
Ia mengatakan, kualitas buku tidak cukup hanya dinilai dari ketepatan materi, kualitas kertas dan cetakan, desain, maupun tampilan visual. Isi buku juga harus mampu memberikan gambaran yang adil mengenai berbagai kelompok dan realitas sosial di masyarakat.
“Memperbaiki buku teks jangan hanya soal memperbaiki materi, kualitas cetakan, atau tampilan buku. Yang juga penting adalah memastikan buku tersebut bebas dari bias dan stereotipe,” kata Radius, Senin (10/8/2026).
Radius menjelaskan, narasi yang terdapat dalam buku pelajaran dapat memengaruhi cara anak memahami berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya. Materi yang disampaikan secara tidak berimbang berpotensi membentuk pandangan tertentu terhadap kelompok sosial maupun isu tertentu.
Menurutnya, sejumlah aspek seperti gender, lingkungan, identitas, serta keberagaman kelompok sosial perlu disajikan dengan perspektif yang adil dan proporsional.
Karena itu, ia mendorong pemerintah melibatkan akademisi, praktisi pendidikan, guru, serta berbagai pihak yang memiliki kompetensi dalam proses penyusunan dan evaluasi buku pelajaran.
Langkah tersebut dinilai penting agar buku yang digunakan siswa tidak hanya memiliki materi yang akurat dan tampilan yang lebih baik, tetapi juga mampu menjadi sumber pembelajaran yang inklusif dan mencerminkan keberagaman masyarakat Indonesia.
Dengan pembaruan yang dilakukan secara menyeluruh, peningkatan kualitas buku pelajaran diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun sistem pendidikan yang lebih baik sekaligus membentuk generasi yang kritis, terbuka, dan mampu menghargai perbedaan.
Sumber: Berita Satu











