RBN || Jakarta
Keindahan pantai, budaya Sasak, dan berbagai agenda internasional telah membuat Mandalika semakin dikenal sebagai salah satu wajah pariwisata Indonesia. Namun, ada tantangan lain yang tidak kalah penting: bagaimana membuat Mandalika tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga meyakinkan sebagai kawasan untuk berinvestasi. Persoalan inilah yang menjadi perhatian dalam book chapter berjudul Cultural Storytelling and Global Image Building in Tourism Destinations: Lessons From Mandalika, Indonesia karya Ni Putu Limarandani dari LSPR Institute of Communication and Business dan Noprita Herari dari Universitas Negeri Jakarta.
Kajian tersebut melihat Mandalika dari sisi yang sering luput dalam pembicaraan tentang pembangunan destinasi, yaitu komunikasi. Infrastruktur dapat dibangun dan promosi dapat diperluas, tetapi bagaimana sebuah kawasan dipahami oleh wisatawan, investor, dan masyarakat tetap bergantung pada cerita yang disampaikan tentang kawasan tersebut.
Salah satu kekuatan Mandalika terletak pada budaya lokal. Tradisi masyarakat Sasak, kehidupan komunitas, lanskap Lombok, hingga pengalaman masyarakat setempat dapat membentuk cerita yang membedakan Mandalika dari destinasi lainnya. Karena itu, budaya tidak seharusnya hanya tampil sebagai ornamen dalam materi promosi. Masyarakat lokal juga perlu memiliki ruang sebagai bagian dari pihak yang membentuk dan menyampaikan cerita mengenai Mandalika.
Di sinilah muncul tantangan berikutnya. Mandalika membawa dua identitas sekaligus: destinasi wisata dan kawasan investasi. Wisatawan membutuhkan cerita mengenai pengalaman, budaya, keindahan alam, dan kenyamanan. Sementara itu, calon investor membutuhkan informasi berbeda, mulai dari peluang bisnis, kesiapan infrastruktur, dukungan kebijakan, hingga gambaran mengenai nilai ekonomi yang dapat dihasilkan.
Kajian ini menyebut adanya ROI communication gap, yaitu kesenjangan ketika daya tarik wisata lebih mudah terlihat dalam komunikasi Mandalika dibandingkan informasi yang membantu khalayak memahami potensi investasinya. Artinya, membuat sebuah kawasan terlihat menarik belum tentu cukup untuk membuatnya terbaca sebagai peluang investasi yang kredibel.
Karena itu, komunikasi investasi tidak cukup berhenti pada foto destinasi yang menarik atau slogan promosi. Informasi mengenai konektivitas, perkembangan pasar, fasilitas investasi, kesiapan infrastruktur, dan peluang ekonomi juga perlu diterjemahkan ke dalam komunikasi yang mudah dipahami. Pada saat yang sama, manfaat pembangunan bagi masyarakat, seperti lapangan kerja, peningkatan kapasitas, dan keterlibatan komunitas, menjadi bagian penting dari cerita tersebut.
Temuan ini membawa pembahasan branding destinasi ke persoalan yang lebih luas. Membangun citra global bukan berarti mengganti cerita lokal dengan bahasa investasi. Sebaliknya, tantangannya adalah mempertemukan keduanya. Budaya memberi Mandalika identitas, masyarakat memberi cerita tersebut legitimasi, sementara informasi ekonomi dan pembangunan memberikan alasan rasional bagi pihak yang mempertimbangkan investasi.
Dengan demikian, masa depan branding Mandalika tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering kawasan tersebut muncul dalam promosi internasional, tetapi oleh seberapa utuh cerita tentang Mandalika dapat dipahami oleh orang yang berbeda kepentingan. Wisatawan perlu mengetahui mengapa Mandalika layak dikunjungi, masyarakat perlu melihat dirinya sebagai bagian dari pembangunan, dan investor perlu memahami mengapa kawasan tersebut layak dipertimbangkan dalam jangka panjang.
Pembahasan lebih lengkap mengenai hubungan antara cultural storytelling, citra destinasi, keterlibatan masyarakat, dan komunikasi investasi tersebut dituangkan dalam Cultural Storytelling and Global Image Building in Tourism Destinations: Lessons From Mandalika, Indonesia. Chapter karya Ni Putu Limarandani dan Noprita Herari ini menjadi bagian dari buku Advancing Global Communication and Information Exchange Through Tourism, dengan DOI 10.4018/979-8-3373-7457-4.ch004. Bagi pembaca yang ingin melihat Mandalika bukan sekadar sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang tempat budaya, komunikasi, masyarakat, dan kepentingan investasi saling bertemu, kajian ini menawarkan perspektif yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.











