RBN || Jakarta
Perdebatan mengenai kembalinya Ujian Nasional sering kali berujung pada argumen bahwa siswa memerlukan tekanan agar tidak malas belajar. Namun, logika ini justru menyingkap lubang besar dalam karakter bangsa kita, yakni ketergantungan pada motivasi berbasis rasa takut. Ketika belajar dilakukan hanya untuk menghindari kegagalan ujian, kita sebenarnya sedang melanggengkan mentalitas yang rapuh. Perilaku ini tercermin pada masyarakat yang patuh lalu lintas hanya saat ada polisi atau bekerja jujur hanya karena takut diawasi atasan.
Pola didik berbasis ancaman adalah warisan masa lalu yang sudah saatnya diputus. Bagi generasi yang sudah terbentuk dengan mentalitas ini, ketegasan hukum memang menjadi satu-satunya instrumen pengendali. Namun, untuk generasi baru, mendidik dengan rasa takut hanya akan menciptakan manusia yang kehilangan integritas saat pengawasan melemah. Pendidikan seharusnya berfokus pada pembangunan motivasi intrinsik, di mana siswa belajar karena ingin kompeten dan menghargai ilmu pengetahuan sebagai kebutuhan hidup.
Pakar pendidikan menekankan bahwa ketergantungan pada ujian standar sebagai alat pemacu semangat dapat mematikan rasa ingin tahu alami siswa. Motivasi eksternal yang bersifat menekan cenderung membuat individu mencari jalan pintas daripada mendalami substansi. Masyarakat yang maju dan beradab tidak dibangun di atas fondasi ketakutan, melainkan di atas kesadaran moral, profesionalisme, dan tanggung jawab pribadi.
Pertanyaan yang mendasar yang membutuhkan jawaban bersama, apakah menjadikan Ujian Nasional sebagai instrumen pendisiplin adalah tanda sebuah keberhasilan atau kegagalan kita dalam membangun sistem pendidikan yang memanusiakan manusia? Bukankah akan menjadi lebih baik, bila tejadinya transformasi pendidikan diarahkan agar anak didik taat aturan karena peduli keselamatan dan bekerja keras karena memiliki standar kualitas diri yang tinggi. Menghentikan siklus motivasi berbasis ketakutan adalah langkah krusial untuk melahirkan generasi yang memiliki integritas tanpa perlu selalu diancam.











