Emosi yang Tidak Terkendali, Emosi yang Tersayat

  • Share
ilustrasi
ilustrasi

RBN || Jakarta

Dalam interaksi manusia, kita seringkali terjebak dalam rasa sakit akibat perkataan atau tindakan orang lain, apalagi ketika mereka menyakiti tanpa alasan yang jelas. Namun, apakah kita pernah berpikir bahwa luka yang diberikan itu bukan tentang kita? Bisa jadi, orang yang melukai sebenarnya sedang berjuang dengan luka batinnya sendiri, perasaan marah, kesedihan, atau pengkhianatan yang belum sembuh. Ketika mereka melukai orang lain, itu bisa jadi adalah pantulan dari kekacauan batin yang sedang mereka alami.

Psikolog terkenal Carl Jung menyatakan bahwa apa pun yang tidak disadari dalam diri seseorang akan terwujud dalam perilaku eksternalnya. Perasaan negatif yang ditekan, yaitu amarah atau ketakutan, cenderung mencari cara untuk mengekspresikannya melalui individu lain. Individu yang mengalami kekosongan atau rasa tidak aman atau yang belum mampu menyelesaikan konflik internal mereka, biasanya merasa lebih mudah untuk melampiaskan rasa sakit emosional mereka pada individu yang tidak bersalah di sekitar mereka. Ini disebut proyeksi, yaitu cara individu memproyeksikan konflik emosional internalnya yang belum terselesaikan ke dunia melalui perilaku agresif terhadap orang lain. Dengan demikian, rasa sakit yang kita terima biasanya bukan disebabkan oleh diri sendiri, melainkan karena ketidakmampuan orang lain untuk mengelola perasaan mereka.

Menurut Emotional Agility, psikolog Susan David menjelaskan bahwa serangan verbal atau perilaku kasar biasanya dipicu oleh kebingungan emosional pelaku, bukan kesalahan kita sendiri. Serangan pribadi ini biasanya bertindak sebagai cara untuk menyelesaikan konflik internal, yang tidak memungkinkan pelaku untuk menciptakan lingkungan yang damai.

Stoisisme, sebuah aliran filsafat yang telah ada sejak zaman kuno, memberikan perspektif yang sangat relevan dengan dunia modern. Menurut kaum Stoik, kita perlu mengatur respons emosional kita terhadap serangan eksternal. Dalam Meditations, Marcus Aurelius menyatakan bahwa orang tidak perlu khawatir tentang hal-hal yang berada di luar kendali mereka. Perilaku manusia berada di luar kendali kita, dan dengan demikian pilihan mereka untuk menyakiti kita juga di luar kendali kita. Serangan mereka hanya dapat dianggap sebagai serangan pribadi dan ini akan memperburuk situasi karena ini bukan tentang kita, tetapi tentang mereka, yang tenggelam dalam kecemasan dan konflik mereka sendiri.

Menurut psikolog modern Brené Brown Rasa bahwa rasa malu dan rasa tidak aman adalah dua penyebab perilaku negatif banyak orang. Seseorang yang tidak bahagia dengan dirinya sendiri tidak akan mampu memberikan rasa aman kepada orang lain. Persepsi terhadap keadaan emosional orang yang menyakiti kita tidak didasarkan pada pembenaran tindakannya, tetapi pada pelepasan keyakinan bahwa serangan tersebut mencerminkan nilai diri kita. Ini adalah jenis kebijaksanaan emosional di mana kita meninggalkan perasaan sakit yang bukan milik kita dan kita mempertahankan hati kita.

Psikolog John Gottman dalam bukunya The Seven Principles for Making Marriage Work menjelaskan bahwa konflik yang tidak diselesaikan dalam diri seseorang dapat menimbulkan perilaku destruktif terhadap orang lain. Ketika seseorang tidak dapat menangani perasaan negatif mereka dengan cara yang sehat, mereka lebih rentan untuk menyerang orang lain. Ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu merasa disakiti oleh serangan mereka, karena itu bukan tentang siapa kita, tetapi lebih tentang bagaimana mereka berjuang dengan dirinya sendiri.

Memahami hal ini, cara paling efektif untuk menanggapi perilaku buruk orang lain adalah dengan tidak menganggapnya sebagai masalah pribadi. Kita mampu melepaskan dan tidak membiarkan kebencian mereka menghancurkan kedamaian batin kita. Melepaskan bukanlah tanda kekalahan atau ketidakberdayaan, sebaliknya, itu menunjukkan perkembangan emosional kita. Hal itu memungkinkan kita untuk menjaga kepentingan kita dan melindungi hati kita dari racun yang tidak kita hasilkan.

Stoisisme mengajarkan kita untuk tidak menggenggam perasaan negatif orang lain, karena bukan milik kita. Seperti yang dikatakan oleh Epictetus, filsuf Stoik terkenal, “Orang bijak tidak akan terganggu oleh peristiwa eksternal, melainkan oleh penilaiannya terhadap peristiwa tersebut.” Menurutnya, kita tidak seharusnya memikul hal-hal yang bukan milik kita, karena ketenangan hati adalah sesuatu yang berharga. Dengan memaafkan dan berempati kepada orang lain, kita belajar menghadapi setiap tantangan dengan lebih efektif dan menjadi lebih tangguh.

Melepaskan adalah tindakan yang memberi kebebasan kepada diri kita, membebaskan kita dari perasaan marah, kebencian, dan kekacauan yang bukan milik kita. Kita berhak menjaga diri kita dan mengerti bahwa kadang-kadang, luka yang diberikan oleh orang lain bukanlah tentang kita, tetapi lebih tentang mereka yang sedang berperang dengan dirinya sendiri. Dengan melepaskan, kita tidak hanya melindungi diri kita, tetapi juga memberikan ruang untuk pertumbuhan dan kedamaian dalam hidup kita.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *