RBN || Jakarta
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menceritakan momen ketika ia mematikan mikrofon saat menjelaskan perkembangan teknologi nuklir kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Syaiful mengatakan mikrofon dimatikan setelah Prabowo memberikan isyarat dengan tangannya. Ia kemudian meletakkan mikrofon agar pembicaraannya tidak terdengar secara luas.
Menurut Syaiful, pembicaraan tetap berlanjut setelah mikrofon dimatikan. Ia menilai pembahasan tersebut bukan sesuatu yang sangat rahasia jika dilihat dari sisi ilmiah, meski ia tidak mengetahui alasan Prabowo meminta mikrofon dimatikan.
Sebelum mikrofon dimatikan, Syaiful menjelaskan kepada Prabowo mengenai nuklir, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), uranium, dan thorium. Ia menyebut Indonesia memiliki potensi uranium sekitar 89 ribu ton dan thorium 143 ribu ton.
Syaiful juga menilai Prabowo memahami isu nuklir dengan cukup baik. Menurutnya, pertanyaan yang diajukan Prabowo terkait nuklir bersifat saintifik dan menunjukkan pemahaman terhadap bidang tersebut.
Pertemuan itu berlangsung saat para peneliti BRIN memamerkan berbagai produk inovasi di Istana Kepresidenan. Pengembangan teknologi nuklir menjadi salah satu inovasi yang dipresentasikan kepada Presiden.
Sumber: Kompas.com











