RBN || Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (14/11) menandatangani perintah eksekutif yang membebaskan berbagai produk pangan impor—termasuk daging sapi, tomat, kopi, dan pisang—dari tarif besar-besaran yang diberlakukan awal tahun ini terhadap hampir seluruh negara. Kebijakan tersebut diumumkan oleh Gedung Putih.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar pemerintahan Trump untuk merespons kekhawatiran warga Amerika terhadap tingginya harga kebutuhan pokok yang tak kunjung turun.
Tarif baru yang dikecualikan ini berlaku surut mulai Kamis tengah malam, menandai perubahan sikap yang cukup tajam dari Trump. Sebelumnya, ia berkali-kali menegaskan bahwa kebijakan tarifnya bukan penyebab inflasi. Namun, perubahan arah ini muncul setelah Partai Demokrat meraih kemenangan penting dalam pemilihan wilayah di Virginia, New Jersey, dan New York City—daerah yang menjadikan isu biaya hidup sebagai topik utama.
Gedung Putih menyampaikan bahwa setiap pengembalian dana karena tarif yang dibatalkan akan diproses sesuai prosedur Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP).
Selama masa kepemimpinannya, Trump telah mengguncang sistem perdagangan global dengan menerapkan tarif dasar 10 persen untuk semua impor dari seluruh negara, diikuti tarif tambahan yang bervariasi antarnegara bagian.
Perintah eksekutif terbaru ini diumumkan sehari setelah AS mencapai kerangka kesepakatan dagang baru yang akan menghapus tarif atas sejumlah produk makanan dan barang tertentu dari Argentina, Ekuador, Guatemala, dan El Salvador setelah perjanjian tersebut difinalisasi. Pejabat AS mengatakan lebih banyak perjanjian serupa tengah dibidik untuk ditandatangani sebelum akhir tahun.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump gencar menekankan isu keterjangkauan harga kebutuhan pokok, sembari tetap bersikeras bahwa lonjakan biaya dipicu oleh kebijakan presiden sebelumnya, Joe Biden, bukan oleh tarif impor miliknya.
Namun konsumen terus mengeluh soal harga bahan makanan yang tinggi. Para ekonom menilai tarif impor turut menyumbang kenaikan tersebut, bahkan bisa semakin parah tahun depan ketika perusahaan mulai membebankan sepenuhnya dampak tarif kepada konsumen.
Ketua Demokrat di Komite Ways and Means DPR AS, Richard Neal, menilai pemerintahan Trump sedang “memadamkan api yang mereka nyalakan sendiri dan mengklaimnya sebagai kemajuan.”
“Pemerintahan Trump akhirnya mengakui secara terbuka apa yang sudah kita ketahui sejak awal: Perang Dagang Trump membuat biaya hidup semakin tinggi,” kata Neal dalam pernyataannya. “Sejak tarif diberlakukan, inflasi meningkat dan sektor manufaktur mengalami kontraksi bulan demi bulan.”
Sumber: CNA











