PLTS Pulau Sembur Batam Buka Potensi Ekonomi Baru di Pulau Kecil
RBN || Batam
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Sembur, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), dinilai dapat membuka peluang pengembangan ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah pulau-pulau kecil yang selama ini menghadapi keterbatasan akses energi.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melihat pengembangan PLTS tidak hanya berkaitan dengan penyediaan listrik, tetapi juga dapat menjadi pendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Ketersediaan energi yang memadai dinilai dapat mendorong berbagai usaha produktif, khususnya sektor perikanan dan usaha masyarakat di wilayah pesisir.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Kepri Riki Rionaldi mengatakan konsep yang diterapkan di Pulau Sembur sesuai dengan kondisi Kepulauan Riau yang memiliki banyak pulau kecil dengan potensi ekonomi. Namun, tidak semua wilayah tersebut memiliki akses listrik yang memadai.
Menurut Riki, PLTS Pulau Sembur dapat menjadi contoh yang nantinya diterapkan di pulau-pulau lain yang masih belum mendapatkan akses listrik secara optimal.
“PLTS Pulau Sembur ini menjadi percontohan untuk pulau-pulau lainnya di Kepulauan Riau yang masih belum teraliri listrik,” kata Riki di Batam, Senin (21/9/2026).
Ia menjelaskan, penyediaan energi yang terhubung langsung dengan potensi ekonomi masyarakat menjadi salah satu hal penting dalam pengembangan pulau-pulau kecil. Dengan adanya sumber listrik, berbagai kegiatan usaha yang sebelumnya terbatas karena kebutuhan energi dapat dikembangkan.
Dalam pengembangan tahap awal, proyek PLTS Pulau Sembur tidak berdiri sendiri. Pembangunan pembangkit tersebut turut disertai dengan penyediaan sejumlah sarana dan prasarana yang mendukung aktivitas masyarakat, khususnya sektor perikanan.
Beberapa fasilitas tersebut antara lain mesin pembuat es atau ice maker, gudang pendingin (cold storage) untuk menyimpan hasil perikanan, serta kapal listrik.
Keberadaan fasilitas tersebut memungkinkan energi listrik yang dihasilkan PLTS digunakan secara langsung untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah menjaga hasil tangkapan ikan agar tetap memiliki kualitas dan nilai jual melalui penggunaan gudang pendingin.
Riki juga mendorong Koperasi Desa Merah Putih yang berada di wilayah tersebut untuk mulai melakukan pemetaan terhadap potensi ekonomi lokal. Pemetaan tersebut mencakup kebutuhan energi masyarakat, potensi usaha, hingga peluang kerja sama dengan penyedia teknologi dan investor.
Menurutnya, pemetaan menjadi penting agar penyediaan energi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik ekonomi masyarakat di masing-masing pulau.
PLTS Jadi Katalisator Ekonomi Masyarakat
Direktur Energi Terbarukan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tony Susandy mengatakan penyediaan listrik berbasis energi terbarukan di wilayah pesisir dan kepulauan perlu diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Menurut Tony, energi listrik dari sumber terbarukan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sarana penerangan atau pemenuhan kebutuhan listrik dasar. Energi tersebut juga dapat menjadi katalisator yang mendorong produktivitas masyarakat.
“PLTS Pulau Sembur ini pembuktian bagaimana Program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) dilaksanakan untuk kesejahteraan rakyat,” ujar Tony.
Tony mengatakan Kementerian ESDM telah memberikan dukungan terhadap perencanaan PLTS Pulau Sembur sejak tahap awal pada akhir 2025.
Dukungan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Koperasi dan Pertamina New and Renewable Energy (PNRE). Kementerian ESDM juga mendukung proses sertifikasi bagi tenaga operator yang nantinya bertugas mengelola PLTS.
Pengelolaan pembangkit tersebut dilakukan di bawah koperasi kelurahan Merah Putih Galang Baru.
PLTS Pulau Sembur memiliki kapasitas sekitar 0,92 megawatt peak (MWp). Pembangkit ini menjadi salah satu proyek awal dalam Program PLTS 100 GWp yang dikembangkan pemerintah pusat.
Pada tahap awal pelaksanaan program tersebut, pemerintah meluncurkan 14 proyek PLTS yang tersebar di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.
Energi Surya Dihubungkan dengan Produktivitas
Wakil Ketua III Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) sekaligus Chief of Operation Apollo Solar Indonesia, Hengky Witarsa, mengatakan pengembangan PLTS Pulau Sembur menunjukkan bahwa energi surya dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.
Menurut Hengky, Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, yakni sekitar 3.294 GW. Potensi tersebut dinilai perlu dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat agar dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung.
Hal tersebut dinilai semakin penting bagi wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber energi konvensional.
“Energi surya tidak cukup hanya menghasilkan listrik. Nilai strategisnya muncul ketika listrik tersebut dapat menjaga nilai hasil produksi masyarakat, membuka kegiatan usaha baru, meningkatkan pendapatan, dan menggerakkan ekonomi lokal,” kata Hengky.
Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan energi surya dapat disesuaikan dengan karakteristik ekonomi di setiap wilayah.
Untuk daerah yang memiliki aktivitas perikanan, misalnya, energi listrik dapat digunakan untuk mendukung gudang pendingin dan pengolahan hasil laut. Sementara di wilayah dengan aktivitas pertanian, energi dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kebutuhan produksi.
Selain itu, energi listrik juga dapat menunjang kegiatan koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta berbagai kegiatan produktif lainnya.
Pulau Sembur Jadi Model Pengembangan Pulau Kecil
Pengembangan PLTS Pulau Sembur diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan ekonomi di pulau-pulau kecil lainnya. Model tersebut mempertemukan sejumlah unsur, mulai dari penyediaan energi, teknologi, investasi hingga kelembagaan koperasi.
Dengan adanya keterhubungan antara energi dan kegiatan ekonomi, masyarakat di pulau kecil diharapkan tidak hanya menjadi pengguna listrik, tetapi juga dapat memanfaatkan energi tersebut untuk mengembangkan usaha.
Konsep tersebut menjadi penting bagi Kepulauan Riau yang memiliki banyak wilayah kepulauan dengan potensi ekonomi di sektor perikanan, pertanian, UMKM, maupun kegiatan produktif lainnya.
Melalui pengembangan PLTS, penyediaan energi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi yang sudah berkembang di masing-masing wilayah.
Model Pulau Sembur selanjutnya diharapkan dapat direplikasi di pulau-pulau kecil lainnya di Kepulauan Riau, terutama wilayah yang memiliki potensi ekonomi tetapi masih menghadapi keterbatasan akses terhadap energi.
Sumber: Antara News


