Parkir Sembarangan Ganggu Layanan BRT Trans Semarang, Dishub Siapkan Penindakan

  • Share
Foto: Tribunnews

RBN || Semarang

Pengelola Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang mengakui kendaraan yang parkir sembarangan di sekitar halte masih menjadi salah satu kendala dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Masalah tersebut terutama terjadi di sejumlah titik pemberhentian yang memiliki keterbatasan lahan. Di sisi lain, jumlah kendaraan pribadi terus bertambah sehingga kebutuhan ruang parkir semakin tinggi.

Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, mengatakan pihaknya rutin berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang untuk mengurangi gangguan akibat kendaraan yang parkir di area halte.

“Jadi, berkaitan dengan parkir, itu sebenarnya kita selalu melakukan koordinasi dengan bidang parkir khususnya dan juga dengan bidang Dalop, pengendalian operasi,” kata Haris, Jumat (7/8/2026).

Menurut Haris, parkir liar menjadi tantangan tersendiri bagi operasional BRT, terutama pada halte yang hanya dilengkapi rambu atau plang. Kondisi tersebut membuat ruang untuk menempatkan kendaraan BRT menjadi terbatas.

Selain berkoordinasi dengan Dishub, pengelola Trans Semarang juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak menggunakan area halte sebagai tempat parkir.

Namun, Haris menilai keberhasilan penanganan masalah tersebut juga sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan lalu lintas dan parkir.

Terkait usulan pemasangan marka jalan atau bollard di sejumlah halte yang hanya berupa rambu, Haris mengatakan langkah tersebut tidak bisa diterapkan di seluruh lokasi.

Menurut dia, pemasangan fasilitas pengamanan halte harus mempertimbangkan kondisi masing-masing lokasi serta mengikuti ketentuan yang berlaku.

Meski begitu, kendaraan yang tetap parkir di area terlarang tetap menjadi sasaran penindakan oleh Dishub Kota Semarang.

Haris menyebut petugas dapat memberikan sanksi kepada kendaraan yang melanggar, salah satunya dengan melakukan penggembokan.

Upaya tersebut diharapkan dapat membuat area pemberhentian BRT tetap steril sehingga bus dapat menaikkan dan menurunkan penumpang dengan aman serta tidak mengganggu kelancaran lalu lintas.

Sumber: Tribunnews

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *