RBN||Jakarta Timur
Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta yang dipenuhi kendaraan modern, suara derap kuda dan dentingan lonceng delman masih terdengar di kawasan Taman Fadilah, Cijantung. Pagi itu, beberapa delman berjejer menanti penumpang, menghadirkan nuansa nostalgia di tengah gemerlap ibu kota.
Setiap Minggu pagi, delman menjadi daya tarik bagi keluarga yang berolahraga atau sekadar berwisata ringan. Dengan tarif sekitar Rp25.000 per putaran, warga dapat menikmati perjalanan santai mengelilingi area taman sambil merasakan atmosfer transportasi tempo dulu.
“Anak-anak sekarang jarang melihat delman. Jadi sekalian saya kenalkan budaya lama, biar mereka tahu kalau dulu orang bepergian pakai delman,” ujar Rina (32), seorang pengunjung yang tampak antusias menaiki delman bersama putranya.
Meski jumlahnya tak sebanyak dulu, keberadaan delman di Cijantung menjadi pengingat sejarah panjang Jakarta dengan moda transportasi tradisional. Kini, fungsinya lebih banyak sebagai sarana hiburan dan wisata budaya ketimbang alat transportasi harian.
Para kusir pun mengaku senang masih bisa melanjutkan tradisi ini. “Selama masih ada yang mau naik, kami tetap jalan. Ini bukan cuma soal nafkah, tapi juga melestarikan budaya,” tutur Pak Joko, salah satu kusir delman yang sudah 15 tahun beroperasi di kawasan tersebut.
Kehadiran delman di tengah arus modernisasi transportasi memberikan warna tersendiri bagi Jakarta Timur. Selain menjadi hiburan, delman juga menjadi pengingat bahwa kota metropolitan ini memiliki warisan budaya yang patut dijaga.











