RBN || Jakarta
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap tingginya ongkos politik dalam pemilu dan pemilihan kepala daerah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong banyak kepala daerah terjerat kasus korupsi.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan kesimpulan tersebut diperoleh dari berbagai perkara korupsi yang ditangani lembaga antirasuah, termasuk sejumlah operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah.
“Dari perkara yang ditangani KPK, salah satu faktor yang kerap muncul adalah tingginya biaya politik dalam pemilu maupun pemilihan kepala daerah,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Budi, persoalan korupsi di lingkungan pemerintah daerah masih bersifat kompleks sehingga membutuhkan penanganan yang menyeluruh. Ia menegaskan korupsi tidak hanya dipengaruhi oleh integritas individu, tetapi juga kelemahan sistem yang membuka peluang terjadinya penyimpangan.
“Melainkan dipengaruhi oleh berbagai aspek, baik yang berkaitan dengan integritas individu maupun kelemahan sistem yang membuka peluang terjadinya penyimpangan,” katanya.
Budi mencontohkan dugaan korupsi yang melibatkan Bupati Ponorogo nonaktif Sugiri Sancoko. Dalam perkara tersebut, KPK menemukan indikasi adanya penyandang dana politik yang kemudian memperoleh akses untuk mengatur proyek pemerintah dan mengambil keuntungan dari pelaksanaannya.
Pola serupa juga ditemukan dalam perkara yang melibatkan Bupati Langkat nonaktif Syah Afandi alias Ondim. Menurut KPK, pihak swasta yang menjadi bagian dari tim sukses kepala daerah diduga memperoleh berbagai paket pekerjaan setelah kandidat yang didukungnya memenangkan pemilihan.
“(Dalam perkara Langkat), di mana pihak swasta yang merupakan bagian dari tim sukses kepala daerah diduga memperoleh berbagai paket pekerjaan setelah kandidat yang didukungnya terpilih,” ujar Budi.
Temuan-temuan tersebut, menurut KPK, menunjukkan pentingnya upaya perbaikan sistem politik dan tata kelola pemerintahan untuk menekan praktik korupsi di daerah, termasuk melalui pengurangan biaya politik yang dinilai menjadi salah satu pemicu munculnya penyimpangan.
Sumber: Kompas.com











