Saat Bertahan Tak Lagi Sehat, Bataslah Menjadi Pilihan
RBN || Jakarta
Seseorang bertahan dalam pertemanan yang sudah lama terasa tidak sehat, dengan alasan sederhana, sudah bertahun-tahun kami berteman, sayang jika diakhiri begitu saja. Bertahun-tahun kemudian, pertemanan itu masih menyakitkan dengan cara yang sama, namun ia tetap bertahan, seolah lamanya waktu yang sudah diinvestasikan membuat hubungan itu wajib dipertahankan, apa pun yang terjadi.
Ekonom perilaku Richard Thaler, yang meneliti bagaimana manusia mengambil keputusan yang tidak selalu rasional, menjelaskan sebuah kecenderungan yang disebut sebagai jebakan biaya tertanam. Manusia cenderung terus melanjutkan sesuatu, meski sudah tidak menguntungkan, hanya karena telah banyak waktu, tenaga, atau perasaan yang telanjur dicurahkan ke dalamnya. Semakin besar pengorbanan yang sudah diberikan, semakin sulit pula seseorang melepaskan diri, meski secara objektif melanjutkan hubungan tersebut justru semakin merugikan.
Pola pikir ini bekerja dengan kuat dalam hubungan personal. Seseorang merasa telah terlalu banyak berkorban dalam sebuah pertemanan atau hubungan keluarga, sehingga mengakhirinya terasa seperti menyia-nyiakan semua pengorbanan tersebut. Padahal kenyataannya, waktu yang sudah berlalu tidak akan kembali, apa pun keputusan yang diambil sekarang. Pertanyaan yang lebih layak diajukan bukan berapa banyak yang sudah dikorbankan, melainkan apakah melanjutkan hubungan ini masih membawa kebaikan bagi hidup ke depan.
Bertahan dalam sebuah hubungan memang sering dianggap sebagai bentuk kesetiaan dan ketahanan. Namun ada perbedaan penting antara bertahan karena hubungan tersebut masih memberi ruang untuk tumbuh bersama, dan bertahan karena takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya sudah lama tidak lagi memberi kebaikan apa pun.
Menetapkan batas menjadi pilihan yang muncul ketika bertahan sudah tidak lagi sehat. Batas bukan berarti membenci seseorang atau menyatakan perang terhadapnya. Batas berarti mengakui dengan jujur bahwa suatu pola hubungan sudah tidak dapat diteruskan seperti sebelumnya, dan memilih untuk melindungi diri dari kerusakan yang terus berulang.
Kesulitan menetapkan batas sering muncul dari rasa bersalah yang tidak berdasar. Seseorang merasa harus terus memberi kesempatan, terus memaafkan, dan terus berharap keadaan akan berubah, meski bukti yang ada menunjukkan sebaliknya. Rasa bersalah ini perlu dibedakan dari tanggung jawab yang sesungguhnya, sebab tidak ada kewajiban moral untuk terus-menerus mengorbankan kesehatan diri sendiri demi mempertahankan sesuatu yang sudah lama tidak sehat.
Batas yang ditetapkan tidak harus disertai kemarahan atau drama besar. Ia bisa berupa keputusan sederhana, seperti mengurangi frekuensi pertemuan, berhenti membuka diri pada topik-topik tertentu, atau memilih tidak lagi menjelaskan diri kepada orang yang sudah berkali-kali tidak mau memahami. Batas yang tenang sering kali lebih tahan lama dibanding batas yang ditetapkan dalam kemarahan.
Melepaskan sesuatu yang sudah banyak diinvestasikan memang terasa berat, namun terus bertahan hanya karena sayang dengan waktu yang sudah dihabiskan justru berisiko menambah kerugian yang lebih besar di masa depan. Semakin lama seseorang menunda keputusan untuk menetapkan batas, semakin banyak pula energi, waktu, dan ketenangan yang terkuras dari hal-hal lain yang sebenarnya lebih pantas mendapatkan perhatian.
Batas yang ditetapkan pada waktu yang tepat bukan tanda kegagalan mempertahankan hubungan, melainkan tanda kedewasaan dalam mengenali kapan sebuah hubungan sudah tidak lagi sehat untuk dilanjutkan. Kesetiaan yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa lama seseorang bertahan dalam kesakitan, melainkan dari seberapa jujur ia terhadap dirinya sendiri tentang apa yang benar-benar dibutuhkan untuk tetap hidup dengan tenang.
