Melihat Lebih Luas Sebelum Menghakimi

RBN || Jakarta

Dua orang bisa menyaksikan kejadian yang persis sama, namun sampai pada kesimpulan moral yang jauh berbeda. Satu orang menganggap sebuah tindakan wajar karena mendahulukan kepentingan keluarga, sementara orang lain menganggap tindakan yang sama egois karena mengabaikan aturan bersama. Keduanya tidak sedang berbohong tentang apa yang mereka lihat, mereka hanya menilainya melalui kacamata yang berbeda.

Psikolog moral Jonathan Haidt, yang meneliti bagaimana manusia membentuk penilaian tentang benar dan salah, menemukan bahwa penilaian moral seseorang biasanya muncul lebih dulu sebagai reaksi intuitif yang cepat, sebelum akal sehat menyusul kemudian untuk mencari alasan yang mendukung reaksi tersebut. Dengan kata lain, banyak penghakiman yang terasa seperti hasil pemikiran matang sebenarnya lahir dari perasaan sesaat, yang baru kemudian dibungkus dengan argumen agar terdengar masuk akal.

Haidt juga menemukan bahwa manusia memiliki beberapa fondasi moral yang berbeda-beda bobotnya bagi setiap orang, seperti keadilan, kepedulian, kesetiaan, otoritas, dan kesucian. Seseorang yang sangat mengutamakan kepedulian mungkin menilai sebuah tindakan dari dampaknya terhadap orang yang lemah, sementara seseorang yang mengutamakan kesetiaan mungkin menilai tindakan yang sama dari sudut pandang pengkhianatan terhadap kelompok. Perbedaan bobot ini menjelaskan mengapa dua orang yang sama-sama berniat baik bisa sampai pada kesimpulan yang bertentangan.

Memahami hal ini penting, sebab terlalu sering kita menganggap orang yang berbeda pendapat dengan kita sebagai orang yang kurang bermoral, padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka sedang menimbang persoalan yang sama melalui fondasi moral yang berbeda. Menyadari perbedaan ini tidak membuat semua pendapat menjadi sama benar, namun membantu menjelaskan mengapa perdebatan moral sering terasa buntu, sebab kedua pihak merasa sedang membela sesuatu yang mereka yakini benar secara mendalam.

Melihat lebih luas sebelum menghakimi berarti bersedia berhenti sejenak sebelum reaksi intuitif diubah menjadi kesimpulan final. Reaksi cepat terhadap sebuah tindakan adalah hal yang wajar dan bahkan diperlukan, namun memberi jeda sebelum menyampaikan penilaian memungkinkan seseorang mempertimbangkan sudut pandang lain yang mungkin belum terpikirkan pada detik pertama.

Kebiasaan ini juga mengajarkan pentingnya bertanya kepada pihak yang dinilai, bukan hanya menyimpulkan dari luar. Banyak konflik memburuk bukan karena perbedaan nilai yang sebenarnya, melainkan karena kedua pihak berhenti mendengarkan satu sama lain begitu penilaian awal terbentuk. Bertanya dengan tulus, apa yang mendasari keputusanmu, dapat membuka pemahaman yang jauh lebih dalam dibanding sekadar menuduh dari kejauhan.

Melihat lebih luas tidak berarti kehilangan pendirian atau menganggap semua tindakan sama benarnya. Beberapa tindakan tetap jelas keliru, apa pun sudut pandang yang digunakan untuk melihatnya. Namun bagi persoalan yang berada di wilayah abu-abu, kesediaan mempertimbangkan berbagai fondasi moral yang mungkin sedang bekerja pada orang lain dapat mencegah penghakiman yang terlalu cepat dan terlalu sempit.

Kedewasaan dalam menilai sebuah persoalan terlihat dari kemampuan menahan diri untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa orang yang berbeda pandangan pasti kurang bermoral. Sering kali, perbedaan itu justru menunjukkan bahwa keduanya sama-sama peduli terhadap kebaikan, hanya melalui jalan dan penekanan yang berbeda.

Sebelum menghakimi, memberi ruang bagi kemungkinan bahwa ada lebih dari satu cara memandang kebaikan adalah langkah yang dapat mengubah banyak konflik yang sebelumnya terasa tidak berujung. Semakin luas sudut pandang yang dipertimbangkan seseorang, semakin adil pula penilaian yang mampu ia berikan kepada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *