Hanya Melihat Satu Adegan, Merasa Tahu Seluruh Cerita
RBN || Jakarta
Sebuah video pendek beredar menunjukkan seseorang membentak petugas di sebuah kantor layanan publik. Dalam hitungan jam, video itu dibagikan ribuan kali, disertai komentar yang mengecam orang tersebut sebagai pribadi kasar dan tidak sabaran. Tidak banyak yang bertanya apa yang terjadi sebelum kamera mulai merekam, sudah berapa lama orang itu menunggu, atau kesalahan apa yang mungkin telah berulang kali dilakukan pihak lain terhadapnya. Satu adegan pendek sudah cukup membuat banyak orang merasa mengetahui seluruh cerita.
Psikolog Daniel Kahneman, peraih penghargaan atas kontribusinya dalam memahami cara manusia mengambil keputusan, menjelaskan sebuah kecenderungan pikiran yang ia sebut sebagai apa yang terlihat, itulah semuanya. Menurutnya, pikiran manusia bekerja dengan cepat menyusun sebuah kesimpulan yang terasa masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia saat itu, tanpa banyak mempertimbangkan bahwa informasi tersebut mungkin sangat tidak lengkap. Semakin sedikit informasi yang dimiliki, semakin mudah dan cepat pula sebuah kesimpulan terbentuk, sebab pikiran tidak dibebani oleh kerumitan fakta tambahan yang sebenarnya ada.
Kecenderungan ini menjelaskan mengapa manusia begitu mudah membuat penilaian dari sepotong informasi, entah itu satu unggahan, satu tangkapan layar, atau satu cerita yang didengar dari satu sudut pandang saja. Otak tidak secara otomatis bertanya, apa yang belum aku ketahui, ia justru cenderung langsung menyusun cerita yang paling masuk akal dari apa yang sudah terlihat, lalu memperlakukan cerita tersebut seolah sudah lengkap.
Persoalan menjadi lebih rumit karena kesimpulan yang terbentuk cepat ini terasa sangat meyakinkan bagi orang yang membuatnya. Seseorang yang telah menyimpulkan sesuatu dari satu adegan biasanya tidak merasa dirinya sedang menilai secara terburu-buru. Ia justru merasa telah memahami situasi dengan jelas, sebab dari sudut pandangnya, tidak ada celah yang terlihat kosong, padahal kekosongan itu ada, hanya belum disadari keberadaannya.
Media sosial memperbesar fenomena ini secara luar biasa. Sebuah percakapan panjang dapat dipotong menjadi satu kalimat yang terdengar mengejutkan. Sebuah peristiwa yang berlangsung berjam-jam dapat direduksi menjadi video berdurasi beberapa detik. Setiap pemotongan ini menghilangkan konteks, namun penonton yang hanya melihat potongan tersebut tetap merasa telah mengetahui keseluruhan kejadian, sebab itulah satu-satunya versi yang tersedia bagi mereka.
Kebiasaan menyimpulkan dari satu adegan juga sering muncul dalam hubungan sehari-hari. Seseorang mendengar satu cerita tentang perilaku rekan kerjanya, lalu langsung membentuk penilaian tetap tentang karakter orang tersebut, tanpa mempertimbangkan bahwa satu momen tidak pernah cukup mewakili keseluruhan seseorang. Padahal setiap orang memiliki hari-hari baik dan buruk, tekanan yang tidak terlihat, serta konteks yang membentuk setiap tindakan yang diambilnya.
Melawan kecenderungan ini membutuhkan kebiasaan bertanya secara sadar, informasi apa yang mungkin belum aku ketahui, sebelum sebuah kesimpulan diambil sepenuhnya. Pertanyaan sederhana ini tidak selalu mengubah penilaian akhir, namun ia membuka ruang bagi kemungkinan bahwa cerita yang terlihat mungkin baru sepotong kecil dari keseluruhan yang sebenarnya jauh lebih rumit.
Menahan diri untuk tidak segera menyimpulkan bukan berarti menjadi naif atau menolak mempercayai bukti yang ada. Ini lebih tentang memberi ruang bagi kerendahan hati intelektual, mengakui bahwa apa yang terlihat oleh mata belum tentu mewakili keseluruhan kebenaran, dan bahwa penilaian yang terburu-buru berisiko menghakimi seseorang berdasarkan informasi yang sangat tidak lengkap.
Kebiasaan memberi ruang bagi ketidaktahuan justru mencerminkan kematangan berpikir yang jarang dimiliki banyak orang. Seseorang yang mampu berkata, aku belum tahu seluruh ceritanya, biasanya jauh lebih dekat dengan kebenaran dibanding seseorang yang merasa sudah memahami semuanya hanya dari satu adegan yang kebetulan sempat terlihat.
