Kiai Asep Tuduh Ada Pengondisian Suara AHWA di Muktamar NU, Minta Surat Suara Dimusnahkan

RBN || Jombang

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memanas setelah KH Asep Saifuddin Chalim atau Kiai Asep menyampaikan tudingan mengenai dugaan pengondisian dalam proses pengumpulan suara untuk Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Asep melalui sebuah video yang beredar menjelang proses pemilihan dalam Muktamar NU di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Dalam video yang diakses AFU.id pada Sabtu (29/8/2026), ia meminta peserta Muktamar, khususnya pemilik hak suara dan para Rais Syuriah tingkat wilayah maupun cabang, tidak menggunakan suara AHWA yang menurutnya telah dikumpulkan melalui proses yang tidak sah.

“Suara AHWA yang sudah ada di dalam kotak suara itu harus dimusnahkan karena itu merupakan hasil dari riswah dan penyekapan-penyekapan,” kata Kiai Asep.

Ia kemudian menyinggung dugaan pengondisian terhadap sejumlah Rais Syuriah di Sumatera Selatan. Menurut Kiai Asep, terdapat video seorang Rais Syuriah asal Palembang yang menceritakan proses pengumpulan nama-nama AHWA.

Kiai Asep mengklaim para Rais Syuriah di Sumatera Selatan diminta menuliskan nama-nama AHWA. Ia juga menyebut peserta yang tidak membawa stempel disebut dibuatkan stempel di lokasi.

Setelah proses tersebut, Kiai Asep mengklaim para peserta diminta masuk ke kamar-kamar tertentu dan menerima sejumlah uang. Ia menyebut Rais Syuriah disebut menerima Rp50 juta, sedangkan katib menerima Rp25 juta.

“Di sana sudah ditunggu, ditunggui oleh orangnya Gus Ipul yaitu Sulaiman Tanjung dan orangnya Kiai Miftah,” ujar Kiai Asep.

Kiai Asep menilai pemberian uang tersebut merupakan riswah atau suap yang hukumnya haram, meskipun disebut disamarkan sebagai uang transportasi. Atas dasar itu, ia meminta suara AHWA yang telah berada di dalam kotak tidak digunakan dan proses pemilihan dilakukan kembali.

Menurutnya, pemilik suara harus diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya tanpa tekanan maupun pengaruh pemberian uang. Setelah surat suara ditulis, ia meminta surat tersebut langsung dimasukkan ke dalam kotak untuk kemudian dibuka dan dihitung bersama-sama di lokasi.

“Dibuka bersama, dibacakan bersama,” katanya.

Kiai Asep juga mempersoalkan mekanisme AHWA karena dinilai berpotensi menyingkirkan sejumlah ulama besar dari proses penentuan kepemimpinan NU. Ia menyebut nama KH Ma’ruf Amin dan KH Mustafa Bisri sebagai tokoh yang menurutnya dapat tersingkir akibat mekanisme tersebut.

“Men­yingkirkan Kiai Haji Ma’ruf Amin, jelas itu bukan nurani. Menyingkirkan Kiai Mustafa Bisri, jelas itu bukan nurani,” ujar Kiai Asep.

Sumber: AFU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *