RBN || Jakarta
Berpikir positif kerap dianggap sebagai kunci menghadapi kesulitan hidup. Banyak orang percaya bahwa dengan terus bersyukur dan melihat sisi baik dari setiap keadaan, beban yang dirasakan akan terasa lebih ringan. Namun ketika semangat positif dipaksakan tanpa memberi ruang bagi perasaan sedih, marah, atau kecewa, sikap tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang justru melukai, dikenal sebagai toxic positivity.
Toxic positivity muncul ketika emosi negatif dianggap sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan, bukan dipahami. Kalimat seperti “jangan sedih, masih banyak yang lebih beruntung” atau “semua terjadi karena suatu alasan” memang bermaksud menghibur, tetapi sering kali membuat seseorang merasa perasaannya tidak layak diakui, sehingga ia memilih memendam kesedihan daripada membicarakannya.
Psikolog Susan David dari Harvard Medical School, penulis riset tentang kelincahan emosional, menjelaskan bahwa emosi yang dianggap negatif seperti sedih, marah, atau takut sebenarnya membawa informasi penting tentang apa yang sedang terjadi pada diri seseorang. Menekan emosi tersebut demi terlihat selalu positif tidak menghilangkan perasaan itu, melainkan hanya menundanya, dan penundaan ini dapat muncul kembali dalam bentuk kelelahan emosional yang lebih besar.
Sikap ini sering muncul dari niat baik. Seseorang tidak tega melihat orang terdekatnya bersedih, sehingga secara refleks berusaha mengalihkan perhatian pada hal-hal positif. Namun tanpa disadari, upaya menghibur yang terburu-buru dapat membuat orang yang sedang kesulitan merasa harus buru-buru pulih, padahal proses menerima kesedihan membutuhkan waktu yang tidak dapat dipercepat oleh siapa pun.
Media sosial turut memperkuat budaya ini. Unggahan yang menampilkan kebahagiaan, pencapaian, dan rasa syukur mendapat perhatian jauh lebih besar dibandingkan unggahan yang menunjukkan kesulitan atau kegagalan. Akibatnya, banyak orang merasa perlu menyembunyikan pergumulan yang sebenarnya sedang dihadapi, demi menjaga citra diri yang selalu tampak baik-baik saja.
Toxic positivity juga dapat muncul dalam bentuk menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu merasa bahagia dalam keadaan yang sebenarnya sulit. Seseorang merasa bersalah karena masih sedih meski telah mencoba bersyukur, seolah kesedihan yang dirasakan adalah bukti kegagalan pribadi, padahal emosi tidak pernah bekerja dengan cara yang bisa dipaksakan begitu saja.
Berbeda dengan optimisme yang sehat, kelincahan emosional memberi ruang bagi semua jenis perasaan tanpa menghakiminya. Seseorang dapat mengakui bahwa suatu keadaan memang berat, memberi waktu bagi dirinya untuk merasakan kekecewaan, sebelum perlahan mencari cara untuk melangkah maju. Proses ini terasa lebih jujur dibandingkan memaksakan senyum di tengah keadaan yang sebenarnya menyakitkan.
Mendukung orang lain yang sedang kesulitan tidak selalu membutuhkan kalimat penyemangat. Terkadang, kehadiran yang mau duduk bersama dalam kesedihan, mendengarkan tanpa buru-buru memberi solusi, dan mengakui bahwa suatu keadaan memang berat, jauh lebih menenangkan dibandingkan dorongan untuk segera bangkit dan tersenyum.
Hidup yang sehat secara emosional bukan hidup tanpa kesedihan, melainkan hidup yang memberi ruang bagi seluruh rentang perasaan untuk diakui dan dijalani sebagaimana adanya. Kebahagiaan yang bermakna tumbuh bukan dari menyangkal kesulitan, tetapi dari keberanian menghadapinya dengan jujur, sebelum akhirnya menemukan jalan untuk pulih.











