Kemenhub: Asap Karhutla Ganggu 3.030 Penerbangan di Indonesia
RBN || Jakarta
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia mengganggu aktivitas transportasi udara dalam dua bulan terakhir. Kementerian Perhubungan mencatat sebanyak 3.030 penerbangan terdampak sepanjang 14 Agustus hingga 25 Oktober 2026, dengan sekitar 1.700 penerbangan terpaksa dibatalkan.
Gangguan paling banyak terjadi di wilayah yang terdampak asap karhutla, termasuk Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Berkurangnya jarak pandang menjadi kendala utama karena dapat memengaruhi keselamatan pesawat saat lepas landas maupun mendarat.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, memastikan belum ada laporan gangguan terhadap penerbangan internasional yang beroperasi melalui Jakarta. Menurutnya, kondisi penerbangan di ibu kota masih memungkinkan pesawat melakukan aktivitas lepas landas dan pendaratan.
“Sejauh ini enggak, karena di Jakarta kan bisa take off dan landing,” kata Lukman di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Lukman menjelaskan, sejumlah bandara di Kalimantan menghadapi kendala lebih besar karena belum memiliki fasilitas pendaratan instrumen atau instrument landing system (ILS). Peralatan tersebut membantu pilot melakukan pendekatan pendaratan ketika jarak pandang terbatas akibat kondisi cuaca maupun kabut asap.
Untuk mengurangi risiko gangguan serupa, Kemenhub meminta peningkatan fasilitas pendaratan di sejumlah bandara melalui koordinasi dengan Angkasa Pura Indonesia. Penguatan infrastruktur juga mencakup penerangan landasan serta perangkat pendukung navigasi penerbangan.
“Ini kita ke depan sudah minta ke Angkasa Pura Indonesia untuk memasang kategori 2. Kategori 2 itu bisa sampai 300 meter,” ujarnya.
Peningkatan kemampuan fasilitas tersebut diharapkan membantu operasional pesawat dalam kondisi jarak pandang rendah tanpa mengabaikan standar keselamatan penerbangan. Namun, pelaksanaannya tetap memerlukan kesiapan peralatan bandara, layanan navigasi, dan persyaratan operasional pesawat.
Berdasarkan data Kemenhub, sebanyak 78 bandara mengalami dampak karhutla selama periode 18–25 Oktober 2026. Gangguan juga menjangkau penerbangan perintis, dengan total 617 penerbangan terdampak sepanjang 14 Agustus hingga 25 Oktober 2026.
Besarnya jumlah penerbangan terdampak menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan, tetapi juga menghambat konektivitas antardaerah. Pemerintah menekankan pentingnya peningkatan fasilitas keselamatan dan koordinasi antarinstansi untuk menjaga kelancaran transportasi udara di tengah ancaman kabut asap.
Sumber: Berita Satu


