Sibuk Menghakimi Lupa Berkaca

RBN || Jakarta

Ketika seseorang datang terlambat ke sebuah pertemuan, reaksi pertama yang sering muncul dari orang lain adalah menganggapnya tidak disiplin dan tidak menghargai waktu. Namun ketika kita sendiri yang terlambat, penjelasan yang muncul biasanya berbeda, macet parah, urusan mendadak, atau alasan lain yang terasa dapat dimaklumi. Kejadian yang sama, namun cara menilainya berubah drastis tergantung siapa yang melakukannya.

Psikolog Lee Ross dari Stanford University menamai kecenderungan ini sebagai kekeliruan atribusi fundamental. Ia menemukan bahwa manusia cenderung menjelaskan perilaku orang lain sebagai cerminan karakter mereka, sementara menjelaskan perilaku diri sendiri sebagai akibat dari keadaan di sekitarnya. Ketika orang lain berbuat salah, kita mudah menyimpulkan bahwa mereka memang pemalas, kasar, atau tidak bertanggung jawab. Ketika kita sendiri berbuat kesalahan yang sama, kita cenderung mencari alasan situasional yang membuat kesalahan itu terasa wajar.

Pola pikir ini membuat seseorang mudah menghakimi orang lain tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri sering melakukan hal serupa. Seseorang bisa dengan mudah mengkritik temannya karena terlalu sering membatalkan janji, sambil lupa bahwa dirinya sendiri juga pernah membatalkan janji dengan alasan yang menurutnya masuk akal. Standar ganda semacam ini bekerja begitu halus, sehingga jarang disadari oleh orang yang melakukannya.

Media sosial memperbesar kecenderungan ini secara drastis. Seseorang dapat dengan mudah mengomentari kesalahan orang lain yang tidak dikenalnya sama sekali, menghakimi keputusan hidup orang asing hanya berdasarkan satu unggahan singkat, tanpa mengetahui konteks lengkap di baliknya. Kemudahan menilai dari jarak jauh ini membuat banyak orang menjadi lebih sibuk mengomentari kehidupan orang lain, dibanding meluangkan waktu untuk memeriksa kehidupannya sendiri.

Menghakimi orang lain sebenarnya membutuhkan lebih sedikit usaha dibanding introspeksi diri. Melihat kesalahan orang lain hanya membutuhkan pengamatan sekilas, sementara memeriksa kesalahan sendiri membutuhkan kejujuran yang jauh lebih dalam, sebab kita harus bersedia melihat bagian diri yang sebenarnya tidak nyaman untuk diakui.

Kebiasaan sibuk menilai orang lain juga sering menjadi cara tidak langsung untuk menghindari rasa tidak nyaman terhadap diri sendiri. Semakin seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, semakin sedikit waktu dan energi yang tersisa untuk memeriksa apakah dirinya sendiri juga memiliki kebiasaan serupa yang selama ini luput dari perhatian.

Berkaca tidak berarti seseorang harus berhenti mengenali perilaku yang salah pada orang lain. Kesalahan tetap perlu dikenali dan, jika perlu, dibicarakan. Namun kesadaran bahwa diri sendiri juga rentan melakukan kesalahan serupa dapat mengubah cara menyampaikan kritik, dari nada menghakimi menjadi nada yang lebih memahami, sebab kita tahu betapa mudahnya jatuh ke dalam kesalahan yang sama jika berada dalam situasi yang serupa.

Melatih kebiasaan berkaca dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana setiap kali dorongan untuk menghakimi muncul, yaitu apakah aku pernah melakukan hal yang serupa, dan bagaimana perasaanku ketika itu terjadi. Pertanyaan ini tidak selalu mengubah penilaian terhadap suatu tindakan, namun dapat mengubah cara menyampaikannya menjadi lebih rendah hati dan lebih manusiawi.

Kebiasaan berkaca juga membantu seseorang tumbuh lebih cepat dibanding kebiasaan menghakimi. Waktu yang dihabiskan untuk mengomentari kesalahan orang lain tidak pernah membuat diri sendiri menjadi lebih baik, sementara waktu yang dihabiskan untuk memeriksa dan memperbaiki kesalahan sendiri selalu membawa perkembangan, meski prosesnya lebih lambat dan lebih menantang.

Menyeimbangkan kepekaan terhadap kesalahan orang lain dengan kejujuran terhadap kesalahan diri sendiri adalah bentuk kedewasaan yang jarang disadari nilainya. Seseorang yang lebih sering berkaca dibanding menghakimi biasanya tumbuh menjadi pribadi yang lebih rendah hati, lebih pengertian, dan lebih dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya, sebab ia tidak menuntut standar yang tidak juga ia terapkan pada dirinya sendiri.

One thought on “Sibuk Menghakimi Lupa Berkaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *