RBN || Bondowoso
Musim panen kopi arabika 2026 menjadi tantangan bagi para petani di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Curah hujan yang tinggi pada awal masa pembungaan menyebabkan produksi kopi di sejumlah kebun turun drastis, bahkan mencapai 50 hingga 60 persen dibandingkan tahun lalu.
Meski hasil panen merosot, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menjadi kabar buruk bagi petani. Harga kopi di tingkat produsen justru mengalami kenaikan, seiring tingginya permintaan dari pasar domestik maupun internasional.
Owner Java Raung Coffee sekaligus prosesor kopi di Desa Sukosari Lor, Kecamatan Sukosari, Bondowoso, Andi Wijaya, mengatakan faktor cuaca menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas kopi arabika pada musim panen tahun ini.
“Pada musim panen 2026 produksi kopi di kebun turun sekitar 50 sampai 60 persen karena hujan terjadi pada awal masa pembungaan. Jadi kondisi kebun arabika di Bondowoso saat ini tidak selebat tahun lalu,” katanya, Rabu (29/7/2026).
Andi menuturkan, penurunan produksi terlihat jelas di kebun miliknya. Jika pada musim panen sebelumnya mampu menghasilkan sekitar 25 ton kopi, tahun ini produksinya hanya mencapai sekitar 10 ton.
Di tengah berkurangnya hasil panen, harga kopi justru menunjukkan tren positif. Harga cherry kopi di tingkat petani naik sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram dibandingkan musim lalu. Saat ini, cherry kopi diperdagangkan di kisaran Rp22.000 hingga Rp25.000 per kilogram, sedangkan green bean dijual dengan harga antara Rp175.000 hingga Rp185.000 per kilogram.
Untuk kebutuhan pasar komersial, Andi menjelaskan bahwa cherry kopi dengan komposisi sekitar 75 persen petik merah dan 25 persen petik hijau dibeli pada kisaran harga Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram.
Menurutnya, kopi arabika Bondowoso tetap memiliki daya saing yang tinggi di pasar global berkat cita rasa khas yang dimilikinya. Meskipun produksi menurun akibat faktor cuaca, tingginya permintaan dari pembeli dalam dan luar negeri menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan industri kopi di daerah tersebut.
Andi optimistis, apabila kondisi cuaca pada musim tanam berikutnya lebih mendukung, produksi kopi arabika Bondowoso dapat kembali meningkat dan memenuhi permintaan pasar yang terus bertumbuh.
Sumber: Berita Jatim











