Jika Ingin Dihargai, Mulailah dengan Menghargai
RBN || Jakarta
Ada seorang rekan kerja yang kerap mengeluh tidak pernah didengarkan di rapat. Pendapatnya, katanya, selalu dilewatkan begitu saja. Namun siapa pun yang pernah satu ruangan dengannya tahu bahwa ia sendiri jarang menyimak ketika orang lain berbicara. Ponselnya selalu menyala di tangan, dan tanggapannya sering memotong kalimat orang sebelum selesai diucapkan. Ia ingin didengar, tetapi belum tentu mau mendengarkan.
Situasi semacam ini bukan hal yang asing. Banyak orang menaruh harapan besar pada bagaimana mereka ingin diperlakukan, namun jarang menengok ke belakang untuk memeriksa bagaimana mereka sendiri memperlakukan orang lain. Padahal keduanya berjalan searah. Rasa hormat bukan sesuatu yang muncul begitu saja karena diminta, melainkan tumbuh dari pola perilaku yang dijalani sehari-hari.
Coba perhatikan sebuah keluarga yang duduk bersama di meja makan, tetapi masing-masing sibuk dengan layar sendiri. Ada yang mengeluh anaknya tidak pernah bercerita apa-apa, padahal setiap kali anak itu mencoba berbicara, tanggapannya hanya gumaman singkat tanpa menoleh dari layar. Anak-anak, sama seperti orang dewasa, cepat belajar bahwa perhatian yang mereka berikan tidak dibalas setara. Lambat laun mereka berhenti mencoba.
Pola yang sama juga terlihat di ruang-ruang digital. Sebuah pesan yang dikirim dengan penuh pertimbangan bisa dibalas dengan emoji singkat berjam-jam kemudian, atau bahkan tidak dibalas sama sekali. Grup percakapan keluarga maupun kerja penuh dengan pesan yang dibiarkan menggantung, seolah waktu dan perhatian orang lain tidak berarti apa-apa. Ketika giliran diri sendiri yang diabaikan, barulah muncul rasa kesal.
Empati sebenarnya tidak menuntut seseorang memahami seluruh isi pikiran orang lain secara sempurna. Tidak ada yang benar-benar tahu beban apa yang sedang dipikul seseorang di baliknya wajah tenangnya. Namun ada satu kebiasaan sederhana yang bisa dilatih: membayangkan diri berada di posisi orang yang menerima perlakuan kita. Jika membayangkannya saja sudah terasa tidak nyaman, itu pertanda cukup jelas untuk berpikir ulang.
Daniel Goleman pernah menulis bahwa kesadaran sosial dan empati merupakan bagian penting dari kecerdasan emosional. Kemampuan membaca perasaan orang lain bukan sekadar soal kepekaan, melainkan modal untuk merespons situasi dengan lebih bijak, alih-alih hanya menuruti dorongan emosi sesaat.
Yang menarik, kerusakan sebuah hubungan jarang dimulai dari peristiwa besar. Lebih sering, ia dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap remeh: nada suara yang meninggi tanpa alasan jelas, lelucon yang menyinggung tapi dibalut kata “cuma bercanda”, janji temu yang berkali-kali diundur tanpa kabar, atau cerita pribadi seseorang yang dibagikan ke orang lain tanpa izin. Bagi yang melakukannya, itu mungkin tampak sepele. Bagi yang menerimanya, bekas yang ditinggalkan bisa bertahan jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengucapkannya.
Sebaliknya, kepercayaan juga dibangun dari hal-hal yang tampak biasa saja: menepati waktu yang dijanjikan, mengucapkan terima kasih tanpa diminta, mengakui kesalahan tanpa berdalih, dan memberi ruang bagi orang lain untuk menyelesaikan kalimatnya. Tidak ada yang istimewa dari kebiasaan ini secara terpisah. Namun ketika dilakukan berulang, kebiasaan itulah yang perlahan membentuk rasa aman dalam sebuah hubungan.
Meski begitu, memperlakukan orang lain dengan baik tidak sama dengan membuat perjanjian tak tertulis bahwa kebaikan harus dibalas setimpal. Ada orang yang tetap mengecewakan meski sudah diberi kepercayaan penuh. Ada yang memanfaatkan sikap baik seseorang sebagai celah untuk bertindak semaunya. Ketulusan tidak selalu dibalas dengan ketulusan, dan itu bukan berarti ketulusan itu salah untuk diberikan.
Di titik inilah kebaikan perlu berdampingan dengan batasan yang jelas. Bersikap baik tidak berarti harus menerima segala perlakuan. Seseorang tetap bisa menolak tanpa perlu menghina, menjaga jarak tanpa harus menjelekkan, dan mengakhiri sebuah hubungan tanpa merendahkan pihak lain. Menjaga batas bukan bentuk ketidakramahan, melainkan cara untuk tetap menghormati orang lain tanpa kehilangan penghormatan terhadap diri sendiri.
Karakter seseorang juga lebih mudah terbaca justru saat keadaan tidak berjalan mulus. Bersikap ramah ketika semua sesuai harapan adalah hal yang mudah dilakukan siapa saja. Ujian yang sesungguhnya muncul ketika seseorang dikritik, ditolak, atau berbeda pendapat dengan orang lain. Apakah kekecewaan itu disampaikan dengan cara yang tetap menjaga martabat lawan bicara, atau justru dijadikan alasan untuk menyerang balik?
Cara seseorang memperlakukan pihak yang tidak memiliki kuasa apa pun atas hidupnya sering menjadi ukuran yang lebih jujur dibanding kesopanannya di hadapan atasan atau orang yang dianggap penting. Sikap kepada petugas kebersihan, pengemudi ojek daring, atau pelayan di sebuah warung makan biasanya menyingkap watak yang lebih asli, karena tidak ada keuntungan yang diharapkan dari sikap tersebut.
Usia, jabatan, gelar pendidikan, atau kekayaan tidak otomatis membuat seseorang lebih peka terhadap perasaan orang lain. Kedewasaan justru lebih tampak dari caranya menahan diri, meski sebenarnya ia memiliki peluang untuk bersikap semaunya tanpa ada yang menegur.
Jika ingin didengarkan, mungkin ada baiknya mulai belajar menyimak dengan lebih sungguh-sungguh. Jika ingin dipercaya, jagalah apa yang sudah dipercayakan kepada kita. Jika berharap perasaan sendiri dipertimbangkan, biasakan lebih dulu mempertimbangkan perasaan orang lain. Ini bukan berarti semua perlakuan buruk yang diterima seseorang adalah kesalahannya sendiri. Sikap orang lain tetap menjadi tanggung jawab mereka masing-masing. Yang bisa dikendalikan hanyalah standar perilaku diri sendiri.
Kebiasaan menghargai yang konsisten, sekecil apa pun bentuknya, adalah fondasi dari hubungan yang terasa aman untuk dijalani. Bukan seberapa keras seseorang menuntut penghormatan yang menentukan kualitas hubungannya dengan orang lain, melainkan seberapa konsisten ia lebih dulu memberikannya.

