Trauma Bonding, Saat Rasa Sakit Disalahartikan sebagai Cinta

  • Share
Ilustrasi

RBN || Jakarta

Ada hubungan yang terus dipertahankan bukan karena membahagiakan, melainkan karena terasa sulit ditinggalkan meski penuh luka. Seseorang tahu bahwa hubungan tersebut menyakitkan, namun tetap kembali setelah setiap pertengkaran, tetap memaafkan setelah setiap pengkhianatan, dan tetap merindukan meski sadar bahwa kepergiannya jauh lebih baik. Pola inilah yang dikenal sebagai trauma bonding.

Trauma bonding terbentuk melalui siklus yang berulang antara sakit dan penghiburan. Setelah momen menyakitkan seperti amarah, penghinaan, atau pengabaian, pelaku sering kali kembali menunjukkan kasih sayang, permintaan maaf, atau perhatian berlebihan. Pergantian antara kekerasan dan kelembutan inilah yang justru memperkuat ikatan emosional, alih-alih melemahkannya.

Istilah trauma bonding pertama kali dipopulerkan oleh Patrick Carnes, seorang psikolog klinis yang meneliti pola kecanduan dan hubungan disfungsional. Ia menjelaskan bahwa ikatan semacam ini terbentuk ketika otak mengasosiasikan rasa lega setelah penderitaan dengan rasa cinta, sehingga korban justru semakin terikat pada pelaku setiap kali siklus kekerasan dan rekonsiliasi terulang.

Secara biologis, siklus ini memicu pelepasan hormon yang membingungkan sistem emosional seseorang. Ketegangan dan ketakutan yang muncul saat konflik, diikuti oleh kelegaan besar saat hubungan membaik, menciptakan gelombang emosi yang intens. Intensitas inilah yang sering disalahartikan sebagai gairah cinta yang mendalam, padahal sebenarnya merupakan respons stres yang berulang.

Trauma bonding tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis. Pola ini juga dapat muncul dalam hubungan keluarga, pertemanan, bahkan hubungan kerja, di mana satu pihak memegang kendali besar atas kesejahteraan emosional pihak lain. Seorang anak yang tumbuh dengan orang tua yang tidak konsisten, kadang penuh kasih dan kadang kasar, dapat membawa pola keterikatan serupa hingga dewasa.

Salah satu ciri utama trauma bonding adalah kesulitan meninggalkan hubungan meski secara sadar mengetahui bahwa hubungan tersebut merugikan. Korban sering kali membela pelaku di hadapan orang lain, mencari-cari alasan atas perilaku buruknya, atau merasa dirinyalah yang harus disalahkan karena gagal membuat pelaku bahagia.

Perasaan bersalah yang berlebihan menjadi bagian penting dari pola ini. Korban sering meyakini bahwa jika ia bersikap lebih baik, lebih sabar, atau lebih pengertian, pelaku akan berubah. Keyakinan ini membuat korban terus bertahan, berharap versi baik dari pasangannya akan muncul kembali, meski pola kekerasan terus berulang dari waktu ke waktu.

Isolasi sosial turut memperkuat trauma bonding. Semakin sedikit dukungan dari luar yang dimiliki seseorang, semakin besar pula ketergantungannya pada pelaku, bahkan ketika hubungan tersebut menyakitkan. Pelaku terkadang secara sengaja menjauhkan korban dari keluarga dan teman, sehingga korban semakin sulit menemukan perspektif lain di luar hubungan tersebut.

Mengenali trauma bonding sering kali menjadi langkah paling sulit, sebab pola ini membuat rasa sakit dan kasih sayang tercampur menjadi satu. Pertanyaan sederhana dapat membantu mengenali pola ini, seperti apakah hubungan tersebut lebih banyak membawa ketakutan dibandingkan ketenangan, atau apakah kebahagiaan yang dirasakan hanya muncul setelah periode penderitaan yang panjang.

Melepaskan diri dari trauma bonding membutuhkan lebih dari sekadar keputusan untuk pergi. Proses ini sering kali melibatkan rasa kehilangan yang nyata, meski hubungan tersebut merugikan, sebab keterikatan emosional yang terbentuk tidak hilang begitu saja hanya karena hubungan telah berakhir secara fisik.

Dukungan dari luar menjadi sangat penting dalam proses ini. Berbicara dengan orang yang dipercaya, mencari bantuan profesional, atau bergabung dengan kelompok dukungan dapat membantu seseorang melihat kembali pola yang selama ini sulit dikenali ketika masih berada di dalam hubungan tersebut.

Membangun kembali rasa aman dalam diri sendiri menjadi bagian penting dari pemulihan. Seseorang perlu belajar kembali membedakan antara ketenangan yang sehat dan kelegaan yang hanya muncul setelah ketegangan, sebab keduanya dapat terasa serupa bagi seseorang yang telah lama terbiasa dengan siklus trauma bonding.

Waktu dan kesabaran terhadap diri sendiri sangat diperlukan dalam proses ini. Tidak jarang seseorang merasa rindu terhadap hubungan yang telah ia tinggalkan, meski menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat. Perasaan tersebut wajar dan tidak berarti keputusan untuk pergi adalah keliru, melainkan tanda bahwa ikatan emosional membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar terurai.

Cinta yang sehat semestinya memberi rasa aman, bukan ketegangan yang terus berulang. Kasih sayang yang sesungguhnya tidak membutuhkan siklus menyakiti dan menghibur untuk terasa nyata, sebab kedekatan yang tulus tumbuh dari konsistensi, bukan dari kelegaan setelah penderitaan yang berulang kali dialami.

Menyadari perbedaan antara keterikatan akibat trauma dan cinta yang sehat adalah langkah penting menuju hubungan yang lebih baik di masa depan. Seseorang berhak mendapatkan hubungan yang membuatnya merasa tenang setiap hari, bukan hubungan yang hanya terasa berharga karena diselingi momen-momen indah di antara luka yang terus berulang.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *