RBN || Palu
Transformasi pendidikan tinggi saat ini menjadi kebutuhan yang semakin mendesak di tengah perubahan kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi, serta dinamika dunia kerja yang berlangsung sangat cepat. Perguruan tinggi tidak lagi hanya dituntut menghasilkan lulusan dengan capaian akademik yang baik, tetapi juga harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi relevan, adaptif terhadap perubahan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Tantangan tersebut semakin nyata seiring meningkatnya ekspektasi generasi muda terhadap pendidikan tinggi. Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 mencatat sebanyak 31% Generasi Z memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena meragukan relevansi pendidikan tinggi terhadap kebutuhan praktis dunia kerja. Sementara itu, sebanyak 51% Generasi Z mengaku menyesal berkuliah karena menilai pendidikan tinggi belum memberikan manfaat yang sepadan dengan investasi waktu dan biaya yang dikeluarkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa saat ini tidak lagi hanya berfokus pada perolehan gelar akademik, tetapi juga menginginkan keterampilan yang aplikatif, pengalaman belajar berbasis praktik, serta keterhubungan yang lebih kuat dengan dunia kerja.
Menjawab tantangan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menghadiri Forum Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi yang diselenggarakan oleh APTISI Wilayah Sulawesi Tengah di Universitas Muhammadiyah Palu, Senin (22/6).
Forum tersebut mempertemukan pimpinan perguruan tinggi swasta se-Sulawesi Tengah untuk membahas langkah-langkah konkret dalam meningkatkan mutu pendidikan, memperluas kolaborasi, serta memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.
Dalam forum tersebut, Wamendiktisaintek menekankan bahwa penguatan mutu pendidikan tinggi memerlukan kolaborasi yang kuat, inovasi yang berkelanjutan, serta kemampuan kampus dalam merespons kebutuhan masyarakat.
“Perguruan tinggi harus memahami apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Konsorsium ini dibentuk dalam rangka membangun ekosistem, karena perguruan tinggi adalah bagian dari entitas sosial, jangan berdiri sendiri, jangan berhenti berinovasi,” ujar Wamen Fauzan.
Menurut Wamendiktisaintek, perguruan tinggi saat ini tidak hanya dituntut memastikan mahasiswa lulus tepat waktu, tetapi juga menghasilkan lulusan yang mandiri, kompeten, dan siap menghadapi tantangan dunia profesional. Untuk itu, kampus perlu menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif melalui penguatan kompetensi, pengalaman belajar berbasis praktik, serta keterhubungan yang lebih erat dengan kebutuhan industri.
Dalam mendukung upaya tersebut, penguatan konsorsium antarkampus menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih kuat melalui kolaborasi riset, pertukaran sumber daya, serta penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Siantek), Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani menekankan pentingnya penguatan ekosistem riset dan kolaborasi antarlembaga agar perguruan tinggi dapat menghasilkan inovasi dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembangunan.
Berbagai upaya tersebut sejalan dengan implementasi Diktisaintek Berdampak yang mendorong penguatan kompetensi lulusan, pengembangan riset yang memberi solusi nyata, pelaksanaan KKN Tematik berbasis pemberdayaan masyarakat, penguatan pengabdian kepada masyarakat, serta hilirisasi hasil penelitian agar manfaat pendidikan tinggi dapat dirasakan lebih luas.
Sejalan dengan semangat tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, sekaligus Ketua APTISI Wilayah Sulteng, Rajindra menekankan pentingnya penguatan sinergi antarkampus dalam memperkuat mutu pendidikan tinggi di daerah.
“Perlu ada kolaborasi antara perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, sehingga untuk wilayah Sulawesi Tengah kita bisa maju bersama-sama,” ujar Ketua APTISI Wilayah Sulteng, Rajindra.
FGD APTISI Wilayah Sulteng menjadi ruang dialog strategis dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan mutu serta daya saing pendidikan tinggi Indonesia. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengajak seluruh perguruan tinggi untuk terus memperkuat kolaborasi, membangun inovasi, dan menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin relevan serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui semangat Diktisaintek Berdampak.
____________________
sumber: Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi











