RBN||Bogor
“Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”
Sebuah peribahasa lama yang mengingatkan bahwa pada akhirnya, yang dikenang dari seorang pemimpin bukanlah jabatannya, melainkan jejak pengabdiannya kepada rakyat.
Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan:
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Itulah hakikat pemimpin sejati — bukan hanya memerintah, tetapi menjadi contoh hidup bagi rakyatnya.
Sementara dalam budaya Sunda ada pepatah:
“Ulah pagiri-giri calik, pagirang-girang tampian.”
Jangan saling berebut kedudukan, tetapi berlombalah dalam memberi manfaat dan kebaikan kepada sesama.
Dan dari bumi Moloku Kie Raha, Maluku Utara, masyarakat mengenal filosofi persaudaraan yang kuat:
“Marimoi Ngone Futuru, Masidika Ngone Foruru.”
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Sebuah nilai luhur yang menekankan bahwa kekuatan daerah dan bangsa lahir dari persatuan, kebersamaan, dan saling menopang satu sama lain.
Filosofi inilah yang dinilai banyak orang tercermin dalam gaya kepemimpinan Sherly Tjoanda — menghadirkan kesejukan, merangkul perbedaan, dan membangun dengan semangat persaudaraan.
Indonesia mungkin tidak akan kehabisan harapan.
Di tengah banyaknya rakyat kecil yang lelah dengan janji politik, masyarakat sebenarnya hanya merindukan satu hal sederhana: pemimpin yang hadir dan bekerja dengan hati. Bukan sekadar pidato di atas panggung, bukan pencitraan sesaat di depan kamera, melainkan keberanian untuk benar-benar turun menyentuh kehidupan rakyatnya.
Ketika publik melihat sosok seperti Dedi Mulyadi atau Sherly Tjoanda, masyarakat seakan menemukan kembali keyakinan bahwa masih ada pemimpin yang mau mendengar suara wong cilik.
KDM misalnya.
Ia bukan hanya dikenal karena gaya bicaranya yang sederhana dan dekat dengan budaya Sunda, tetapi karena keberaniannya turun langsung ke lapangan tanpa sekat. Ia hadir di jalan-jalan rusak, di rumah warga miskin, di sungai-sungai yang tercemar, hingga di tengah persoalan sosial yang sering kali hanya menjadi bahan rapat tanpa solusi.
Dalam filosofi Sunda juga dikenal ungkapan:
“Someah hade ka semah.”
Ramah, santun, dan menghormati rakyat adalah kekuatan budaya yang membuat seorang pemimpin dicintai, bukan ditakuti.
“Pohon yang tinggi justru paling banyak diterpa angin.”
Semakin besar pengaruh seorang pemimpin, semakin besar pula ujian dan kritik yang datang. Namun pemimpin sejati tidak sibuk menghindari kritik, melainkan menjadikannya bahan introspeksi untuk bekerja lebih baik.
Bahkan berdasarkan hasil survei resmi dari lembaga Indikator Politik Indonesia pada awal tahun 2026, tingkat kepuasan masyarakat Jawa Barat terhadap kepemimpinan Dedi Mulyadi mencapai angka 95,5 persen. Angka tersebut menjadi salah satu tingkat kepuasan kepala daerah tertinggi di Indonesia.
Di sisi lain, Sherly Tjoanda menghadirkan warna kepemimpinan yang menenangkan. Sosok perempuan yang membawa semangat pelayanan, persatuan, dan kepedulian sosial.
Dalam petuah Jawa juga dikatakan:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”
Bekerja tanpa banyak menuntut kepentingan pribadi, namun aktif dalam pengabdian dan karya nyata.
Dan di situlah rakyat mulai membandingkan.
Mengapa masih ada pemimpin yang sulit ditemui rakyatnya?
Mengapa ada pejabat yang lebih sibuk menjaga citra dibanding menjaga nasib masyarakat?
Mengapa jabatan sering berubah menjadi fasilitas kekuasaan, bukan amanah pelayanan?
Rakyat Indonesia sebenarnya tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin didengar, diperhatikan, dan diperlakukan sebagai manusia yang layak diperjuangkan.
Bayangkan jika seluruh kepala daerah di Nusantara memiliki semangat seperti itu.
Bayangkan jika para pemimpin lebih sering turun ke pasar daripada ke hotel mewah.
Lebih banyak mendengar keluhan petani daripada pidato pencitraan.
Lebih sibuk membangun sekolah, jalan, dan lapangan kerja daripada membangun popularitas pribadi.
Indonesia akan bergerak jauh lebih cepat.
Karena bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia hanya terlalu lama kekurangan keteladanan.
Dan masyarakat Sunda punya satu falsafah yang sangat dalam:
“Silih asah, silih asih, silih asuh.”
Saling menguatkan, saling mengasihi, dan saling membimbing. Jika nilai ini hidup dalam kepemimpinan nasional, maka persatuan bangsa akan semakin kokoh.
Sementara falsafah Maluku Utara kembali mengingatkan kita:
“Marimoi Ngone Futuru, Masidika Ngone Foruru.”
Karena bangsa yang besar bukan dibangun oleh pemimpin yang berjalan sendiri, tetapi oleh pemimpin yang mampu merangkul rakyatnya berjalan bersama.
Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang ingin dilayani.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang siap melayani.
Penulis :
Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas)
Jurnalis Pewarna Indonesia, Penggiat Budaya, dan Aktivis 98.











