RBN|| Jakarta
Suasana Pura Segara Jakarta Raya pada Minggu (24/8/2025) dipenuhi lantunan doa dan aroma dupa. Sekitar 90 peserta dari berbagai wilayah Jabodetabek mengikuti Metatah Bersama (upacara potong gigi) dan Menek Kelih (upacara kedewasaan) yang digelar Suka Duka Hindu Dharma (SDHD) Jakarta Raya.
Acara ini tidak hanya menjadi ritual sakral, tetapi juga momentum kebersamaan dan pelestarian budaya Hindu Bali di tanah rantau. “Kegiatan kolektif seperti ini memudahkan keluarga, sekaligus mempererat persaudaraan umat,” ujar I Wayan Sudarma, Ketua Panitia.
Metatah memiliki makna spiritual mendalam, yakni mengendalikan enam sifat buruk manusia (Sad Ripu) seperti hawa nafsu, amarah, dan keserakahan agar seseorang mencapai hakikat hidup sebagai manusia sejati. Sementara Menek Kelih menandai peralihan seorang anak menuju masa remaja, membawa tanggung jawab spiritual dan sosial yang lebih besar.
Prosesi dipuput oleh Ida Pedanda Made Putra Kemenuh, sulinggih yang hadir khusus memimpin jalannya upacara. “Di manapun kita berada, adat dan tradisi harus tetap dijaga. Upacara ini mengingatkan kita untuk selalu seimbang lahir dan batin,” pesan beliau di sela-sela prosesi.
Sejak pagi, umat memadati area pura. Balutan busana adat Bali, tabuhan gamelan, dan suasana khidmat menambah keagungan acara. Tak hanya peserta, keluarga dan umat yang hadir pun tampak larut dalam kekhusyukan.
Kegiatan ini merupakan wujud nyata pelestarian budaya dan pembinaan spiritual bagi umat Hindu di Jakarta. “Kami ingin memastikan generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya, meski jauh dari Bali,” tambah Sudarma.
Momentum ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Selain menjalankan kewajiban spiritual, acara ini memperkokoh rasa persaudaraan di perantauan. Metatah Bersama dan Menek Kelih di Pura Segara pun ditutup dengan doa bersama, mengiringi harapan agar seluruh peserta menjalani hidup dengan lebih bijak dan harmonis.











