RBN || Semarang
Seorang siswa SMP di Kota Semarang diduga menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh kakak kelasnya di lingkungan sekolah. Peristiwa tersebut terjadi di toilet sekolah dan menyebabkan korban mengalami trauma yang cukup berat hingga hampir tiga bulan tidak masuk sekolah.
Ibu korban mengungkapkan bahwa sejak kasus tersebut terungkap pada 3 April 2026, anaknya menolak untuk kembali bersekolah. Meskipun keluarga berharap korban dapat melanjutkan pendidikan seperti biasa, kondisi psikologis yang dialami membuatnya masih merasa ketakutan.
Berdasarkan hasil konseling yang dilakukan oleh UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), korban mengalami trauma terhadap sekolah maupun kamar mandi yang menjadi lokasi terjadinya dugaan perundungan. Setiap kali melihat atau membayangkan lingkungan sekolah, korban merasa takut dan tidak nyaman.
Kasus ini telah dilaporkan kepada pihak kepolisian dan saat ini penanganannya telah meningkat dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan. Polisi terus mengumpulkan bukti dan keterangan untuk mengungkap secara jelas peristiwa yang terjadi serta menentukan langkah hukum terhadap pihak yang terlibat.
Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat karena menunjukkan dampak serius perundungan terhadap kondisi mental dan pendidikan korban. Selain menyebabkan ketakutan dan trauma, perundungan juga dapat menghambat proses belajar serta perkembangan anak dalam jangka panjang.
Sumber: Detik News











